Pages

Thursday, 16 October 2014

PEKERJA ANAK

       PEKERJA ANAK DI BAWAH UMUR

APA SIH PEKERJA ANAK ?
¢Pekerja anak adalah sebuah istilah untuk mempekerjakan anak kecil. Istilah pekerja anak dapat memiliki konotasi pengeksploitasian anak kecil atas tenaga mereka, dengan gaji yang tak menentu atau pertimbangan bagi perkembangan kepribadian mereka, keamanannya, kesehatan, dan prospek masa depan.
¢Di beberapa negara, hal ini dianggap tidak baik bila seorang anak di bawah umur tertentu, tidak termasuk pekerjaan rumah tangga dan pekerjaan sekolah. Seorang 'Atasan' dilarang untuk mempekerjakan anak di bawah umur, namun umum minimumnya tergantung dari peraturan negara tersebut.

¢Fenomena pekerja anak di Indonesia merupakan masalah serius karena mengancam kualitas kehidupan anak, hak-hak mereka dan masa depan mereka sekaligus masa depan bangsa. Oleh karena itulah pekerja anak merupakan salah satu kategori anak-anak yang perlu mendapat perlindungan khusus.

BENTUK PEKERJAAN YANG DIBOLEHKAN UNTUK ANAK.

      Pada prinsipnya anak tidak boleh bekerja,  dikecualikan untuk kondisi dan kepentingan tertentu anak diperbolehkan bekerja, sebagaimana diatur dalam Undang-undang No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Bentuk pekerjaan tersebut antara lain :
1.Pekerjaan Ringan
      Anak yang berusia 13 sampai dengan 15 tahun diperbolehkan melakukan pekerjaan ringan sepanjang tidak mengganggu perkembangan dan kesehatan fisik,mental dan sosial 
2. Pekerjaan dalam rangka bagian kurikulum pendidikan atau pelatihan.
       Anak dapat melakukan pekerjaan yang merupakan bagian dari kurikulumpendidikan atau pelatihan yang disahkan oleh pejabat yang berwenang dengan ketentuan : Diberi petunjuk yang jelas tentang cara pelaksanaan pekerjaan serta mendapat bimbingan dan pengawasan dalam melaksanakn pekerjaan. Diberi perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja 
3. Pekerjaan untuk mengembangkan bakat dan minat.
       Anak perlu diberikan  kesempatan untuk menyalurkan bakat dan minatnya. pemerintah telah mengesahkan kebijakan berupa Kepmenakertrans No. Kep. 115/Men/VII/2004 tentang Perlindungan bagi Anak Yang Melakukan Pekerjaan Untuk Mengembangkan Bakat dan Minat.

PEKERJA ANAK DI INDONESIA DAN AKAR MASALAHNYA.
¢ Indonesia memang menjadi salah satu negara dengan jumlah pekerja anak terbanyak. Salah satu faktor yang paling utama banyaknya pekerja anak yakni masalah kemiskinan. Data pemerintah mencatat bahwa masih ada 28,6 juta jiwa penduduk Indonesia yang hidup dibawah garis kemiskinan dengan pendapatkan kurang dari satu dollar perhari.
¢ Faktor kemiskinan mendorong orang tua (secara langsung ataupun tidak) untuk memaksa anaknya bekerja, dibandingkan untuk bersekolah.
¢ Faktor bisaya pendidikan yang mahal .
¢ Faktor yang bersifat sekunder diantaranya anak yang prustasi karena orang tuanya bercerai, ataupun kekerasan yang dilakukan oleh orang tua, dan masih banyak faktor yang mendorong anak untuk keluar dari rumah dan bekerja disaat usianya masih kecil.

kriteria dari pekerjaan untuk mengembangkan 
bakat dan minat anak.
Dalam Kepmenakertrans No. Kep. 115/Men/VII/2004  dijelaskan bahwa 
pekerjaan untuk mengembangkan bakat dan minat, harus memenuhi kriteria :
a. Pekerjaan tersebut bisa dikerjakan anak sejak usia dini
b. Pekerjaan tersebut diminati anak
c. Pekerjaan tersebut berdasarkan kemampuan anak
d. Pekerjaan tersebut menambahkan kreativitas dan sesuai dengan dunia anak


Add caption



Pendidikan sebagai Solusi Atasi Masalah Pekerja Anak
¢ Untuk mengatasi permasalahan pekerja anak dan pekerja muda di Indonesia, peningkatan kualitas pendidikan sejak usia anak-anak akan menjadi sumbangan penting untuk menjamin hak-hak dalam memperoleh pekerjaan yang layak.
¢ Kemajuan dalam mencapai sasaran pendidikan dasar sembilan tahun, bahkan terdapat wacana untuk meningkatkan menjadi 12 tahun bagi semua anak merupakan langkah penting dalam menghapuskan pekerja anak,” ujar Van Rooij.



NASIHAT

NASIHAT AYAH



Kecewa dan marah. Itulah yang aku rasakan saat ini. Aku kecewa dengan keputusan yang telah ditetapkan. Dan aku marah karena keputusan itu bukanlah sesuatu yang aku inginkan.
Sekarang aku berada di ruang keluarga, duduk berhadapan dengan ayahku. Ayahku menatapku. Aku tahu arti tatapan itu. Itu adalah tatapan kekecewaan, kecewa melihat hasil ujianku. Kecewa melihat nilai ujian semesterku, nilai yang bisa membuat aku tidak lulus. Dan kecewa atas sikapku. Aku baru saja bercerita kepada ayah tentang penyebab rendahnya nilaiku.
Sebenarnya, nilai rendah bukanlah kemauanku. Aku mampu menyelesaikan soal-soal yang diberikan. Tetapi aku sengaja mengkosongkan lembaran jawabanku. Aku punya alasan melakukannya. Aku melakukannya karena tidak terima dengan keputusan kampus yang mengumumkan bahwa jurusan yang aku ambil, Matematika Umum S1 akan dialihkan ke Matemaatika D3 untuk guru. Ketetapan itu dibuat dengan alasan bahwa di Riau mengalami kekurangan tenaga pengajar. Aku tentu saja menolak keputusan itu. Teman-temanku yang juga menolak bahkan telah mantap ingin pindah jurusan.
Aku sebenarnya tidak ingin menjadi guru, karena aku tidak memiliki minat dengan profesi tersebut. Dan aku ingin mengikuti langkah teman-temanku untuk pundah jurusan. Tapi aku merasa terlalu tanggung, karena pada saat itu aku hendak ujian semester.
Dan sebagai wujud rasa kesalku, aku tidak menjawab soal-soal ujian. Itu adalah bentuk protesku. Bahkan aku telah mendapatkan beberapa kali panggilan dari dosen sebelum nilai ujian keluar, karena heran melihat nilai ujianku menurun drastis. Padahan aku termasuk salah satu mahasiswa yang menonjol dan aktif. Tetapi aku tidak menghiraukan panggilan itu hingga nilai ujianku keluar.
Dan disinilah aku sekarang. Di depan ayahku. Menanti tanggapan apa yang akan diberikannya padaku. Apakah ayah akan marah? Atau bahkan setelah ini dia tidak akan ambil peduli?
Sesaat kemudian, aku mendengar helaan nafas ayah. Terdengan berat. Kemudian ayah berkata, “untuk saat ini, jangan dipikirkan jadi apa kita nanti, tapi pikirkan ilmunya. Karena dengan ilmu yang kita dapatlah, bisa membawa kita ke arah yang kita inginkan. Berbeda dengan yang awal, kali ini aku mendengar nada suara ayah yang tenang.
Dan untuk sesaat aku tertegun. Memikirkan kata-kata yang baru saja keluar dari mulut ayah. Ayah benar. Selama ini aku belajar untuk mencari ilmu. Begitu bodohnya aku mensia-siakan ilmuku hanya karena keputusan kampus. Aku mengangkat wajahku yang sedari tadi tertunduk dan menatap ayah. “Aku mengerti ucapan ayah. Dan sekarang apa yang harus aku lakukan?”
“Mumpung masih ada waktu, pergilah temui dosenmu dan minta ujian perbaikan. Ayah yakin dosenmu akan menerimanya karena mereka tahu kamu bukanlah orang bodoh yang mau mensia-siakan nilaimu tanpa alasan yang jelas.
Aku mengiyakan perkataan ayah. Dan keesokan harinya, aku menemui dosenku untuk meminta ujian perbaikan. Dosenku juga sempat bertanya mengapa lembaran jawabanku kosong, lalu aku menceritakan alasanku. Dan ternyata tanggapan dosenku sama dengan ayahku. Agar aku terfokus pada ilmu yang aku dapat, bukan profesi apa yang akan aku jalani.
Aku mempunyai waktu seminggu untuk memperbaiki nilai-nilaiku. Dan seperti yang ayahku bilang, aku bukanlah orang bodoh. Aku mampu menyelesaikan semua soal ujian. Dan nilaiku yang keluar hampir semuanya A. Dan karena aku dikuasai kemarahan dan kekesalan, aku mengabaikan nilaiku dan lebih mengutamakan keinginanku.
Selanjutnya aku tetap pada jurusan yang aku ambil. Aku akan mencoba menjalaninya. Dan secara perlahan-lahan aku mulai menyukai Matematika D3 yang aku jalani. Itu karena sekarang aku mementingkan ilmu yang aku dapat, bukan lagi memikirkan profesi guru yang akan aku jalani setelah lulus dari kampus ini. Dan aku sadar dengan ilmu yang ada pada diriku, bisa membawaku kemanapun yang aku inginkan. Seperti yang telah dikatakan oleh ayahku.
Cerpen Karangan: Nizahsy Lubis

Wednesday, 15 October 2014

RENUNGAN KITA SEMUA

RENUNGAN IBADAH

Seseorang akan lebih terlihat cantik  /tampan dilihat dari keimanan  /ibadahnya .. Serta kebaikan hatinya .. 
Bukan hanya karena kecantikan / ketampananya (fisik) ... :)


Wednesday, 19 March 2014

PUISI BAYANG - BAYANG NABI

Bayang-bayang Nabi

(Oleh Kang Jaz)

Ya Rasulullah, apa yang harus dilakukan para pemimpin ?"Membela yang lemah dan membantu yang miskin" jawab Nabi.
Ya Rasulullah, apa yang harus dilakukan ulama ?Memberi contoh yang baik dan mendukung pemimpinYAng membela orang - arang lemah" jawabnya
Ya Rasulullah ... apa yang harus dilakukan orang-orang lemah dan miskin ?"Bersabarlah, dan tetplah bersabarJangan kau lihat pemimpinmu yang suka hartaJangan kau ikuti ulamamu yang mendekati merekaJangan kau temani orang-orang yang menjilat merekaJangan kau lepaskan pandanganmu dari para pemimpin dan ulama yang hidupnya juhud dari harta"
Ya RAsulullah... Pemimpin seperti itu sudah tidak adaUlama seperti itu sudah menghilang entah kemanaYang tersisa adalah pemimpin serakahYang tertinggal adalah ulama-ulama yang tama'Banyak rakyat yang mengikuti keserakahan merekaUmmat banyak yang meneladani ketamakan mereka !Apa yang harus aku lakukan, Ya... RAsulullah !Siapa yang harus aku angkat jadi pemimpin ?Siapa yang harus aku ikuti fatwa-fatwanya ?Siapa yang harus aku jadikan teman setia ?
"Wahai ummatku...Tinggalkan mereka semuaDunia tidak akan bertambah baik sebab merekaBertemanlah dengan anak dan istrimu sajaKarena Allah menganjurkan, "Wa 'asiruhunna bil ma'ruf"Ikutilah fatwa hatimuKarena hadits mengatakan, "Istafti qalbaka, wa in aftaukan nas waftauka waftauka"Dan angkatlah dirimu menjadi pemimpinBukankah, "Kullulkum Ra'in, ea kullukum masulun 'an ra'iyyatihi ?"

Tuesday, 18 March 2014

"Bahagiaku"



"Bahagiaku" 

Setelah aku dewasa..
Aku baru sadar
Kalau aku telah banyak berbuat dosa
Aku baru tahu
Kalau aku tak pernah ada di jalan-Nya
Aku baru mengerti
Kalau aku Harus bersujud kepada-Nya

Setelah semuanya terjadi..
Pintu hatiku menjadi terbuka untuk-Nya
Pikiranku hanya tertuju pada-Nya
Taubatku hanya Untuk-Nya

Bahagiaku...
Hanya ada satu bahagiaku..
Kembali ke dalam lindungan-Nya 

( Alam Suryo Wibowo )