Pages

Friday, 11 November 2016

Biodata Fatih Seferagic pecinta Al-Qur'an

Nama Lengkapp: Fatih Seferagic
Tempat Lahir : Stuttgart, Maret 1995
Agama : Islam
Kebangsaan : Bosnia
Tempat tinggal : Texas-USA
Pekerjaan : Mahasiswa dan Guru Quran
Hobi : Membaca Al-Quran
Muda dan juga tampan itulah pendapat sebagian besar orang ketika melihat sosok seorang Fatih Seferagic. Pemuda yg sekarang ini tinggal di Amerika Serikat ini akhir2 ini mencuat ke publik karena video yang ia unggah di sosial youtube.
Suara lantunan ayat2 suci yg ia bawakan sgt mempesona ketika di dengarkan. Tak sedikit pun ada cerminan kalau dia tinggal di Amerika Serikat yg mayoritas bukanlah negara Muslim.
Pemuda tampan ini mulai belajar menghafal Al-Quran sejak usianya menginjak sembilan tahun. Dia belajar di Islamic Society of Baltimore, Maryland, di bawah asuhan Syaikh Qari Zahid dan Qari Abid. Belajar ilmu agama selama tiga tahun, akhirnya Fatih berhasil menghafal seluruh ayat Alquran.
Sudah hafal Al-Quran pada usia 12 thn tidak membuat Fatih seferagic puas dg pencapaiannya. Dia masih melanjutkan belajar ilmu agama dgn menghafal hadis-hadis Nabi Muhammad SAW. Pada tahun 2010, dia masuk ke Bayyinah Dream Program utk belajar bahasa Arab.
Fatih tak hanya pandai dlm ilmu agama, namun dlm kehidupan sosial pun dia aktif, termasuk ikut sejumlah organisasi. Dia menjadi ketua Remaja Masjid Shaykh Yasir Birjas di Dallas, Texas. Tak hanya itu, Fatih jg bergabung sebagai penulis dlm situs Islam yg membahas permasalahan remaja, Muslim Youth Musing.
Sbg remaja pd umumnya, Fatih juga memiliki akun media sosial, seperti Facebook & Twitter. Tahun lalu, pengikut Twitternya sudah puluhan ribu. Sementara, akun Facebooknya, per Jumat 8 Agustus 2014, sudah diikuti oleh 301.653 orang. Melalui akun media sosial itulah Fatih berinteraksi dg orang2 dr berbagai penjuru dunia. Hebat ya sob padahal ia baru beberapa bulan mempunyai akun fb dan twitter.
Sebagai pemuda Indonesia yg beriman, kita wajib mencontohnya & jangan kalah ya dgn si Fatih ini. Kalau dia saja bisa pasti kita juga bisa. Apalagi di negara kita ini mayoritas adl pemeluk agama Islam. Seharusnya kita lebih gampang utk mendapatkan ilmu Islam. Namun semua tergantung pd diri kita sendiri mau belajar/tidak.

Imam Besar Katolik Ini Menangis Akui Kebenaran Islam di Depan Jemaatnya

Imam Besar Katolik Ini Menangis Akui Kebenaran Islam di Depan Jemaatnya http://tz.ucweb.com/11_qtPH

MENJAJAH TAK HARUS DENGAN PERANG

MENJAJAH TAK HARUS DENGAN PERANG

Andai Belanda dulu tahu cara menguasai Nusantara cukup dengan memakai UU No. 40 Tahun 2007 (Penanaman Modal Asing) tentu Belanda tidak perlu Menjajah dengan jalan Berperang...

Namun lihat kini, Melalui UU Investasi Asing, Negara-negara Asing Justru dengan sangat mudah menguasai Kekayaan Negeri ini tanpa harus melakukan Perang.

Melalui Peraturan Kontrak Karya, Negara Asing diperbolehkan Mengelola SDA, bahkan memilikinya dengan Saham Mayoritas. Asing juga boleh untuk memiliki Daerah, Pulau, Tanah dan Wilayah dengan Alasan Penanaman Modal.

Ini adalah bentuk Penjajahan. Penjajahan yang tidak membutuhkan Pertumpahan Darah dan kontak senjata.

Negara Asing cukup menguatkan Kaki Tangannya untuk memuluskan Penjajahannya dari Orang atau Lembaga yang diberi wewenang untuk membuat Peraturan UU.

Sadarkah Anda Wahai Rakyat Indonesia??? Bahwa sekarang Anda sedang di jajah???

#Bangunlah

SINYAL KEBANGKITAN UMAT ISLAM

*Al-Islam edisi 830, 11 Shafar 1438 H – 11 November 2016 M*

Aksi Bela Islam II telah berlangsung pada Jumat 4 November 2016 lalu. Aksi tersebut diikuti oleh lebih dari satu juta (bahkan ada sebagian media yang menyatakan lebih dari dua juta) orang dari kaum Muslim. Foto-foto dari udara yang dimuat di berbagai media sudah lebih dari cukup menjadi bukti besarnya jumlah peserta aksi itu. Peserta aksi pun berasal dari seluruh Indonesia; dari Aceh hingga Papua; dari yang usia muda sampai lanjut usia, laki-laki dan perempuan, dari rakyat biasa, profesional, artis hingga pejabat. Mereka pun berangkat atas biaya sendiri atau patungan. Masyarakat dari berbagai pelosok negeri ini bergerak ikhlas dan spontan menuntut hal yang sama: Adili Ahok, penista al-Quran dan penghina ulama!

Sayang, aspirasi peserta aksi terbesar sepanjang sejarah negeri ini tak bisa disampaikan langsung kepada Presiden Jokowi. Jokowi justru memilih untuk meninjau proyek kereta bandara Soetta-Jakarta Kota; satu agenda yang sesugguhnya bisa ditunda dan dilakukan kapan saja, atau diwakilkan kepada pejabat lainnya. Adapun aksi terbesar itu tentu tidak terjadi kapan saja, bahkan mungkin itu adalah kesempatan satu-satunya. Jokowi memilih “menghindar”; tidak menemui para ulama dan tokoh yang mewakili peserta aksi. Padahal sebelumnya Jokowi mau menerima para pelaku insiden Tolikara, juga bersedia menerima segelintir konglomerat bahkan di antaranya berstatus dicekal. Sikap itu sungguh menanamkan kekecewaan atau bahkan menorehkan luka di hati umat Islam.

Wapres JK akhirnya menerima para ulama perwakilan peserta aksi dengan didampingi Menko Pulhukam, Panglima TNI dan Kapolri. Jk memberikan jaminan bahwa proses hukum terkait Ahok akan dituntaskan dalam dua minggu. Presiden Jokowi melalui konferensi pers yang dilakukan dini hari pada 5 November juga menjamin, “Proses hukum terhadap saudara Basuki Tjahaja Purnama akan dilakukan secara tegas, cepat dan transparan.”

Namun, pada 5 November 2016, sehari setelah Aksi Bela Islam 2, Kapolri menyatakan bahwa jangka waktu dua minggu yang dijanjikan Pemerintah hanyalah untuk menentukan apakah Ahok jadi tersangka atau tidak (DetikNews, 5/11). Jika terbukti, Ahok jadi tersangka. Kalau tidak, kasus dihentikan (Merdeka.com, 5/11).

Terakhir Ahok malah kembali dikesankan tidak melakukan penistaan karena tidak adanya kata pakai dalam transkrip yang diunggah Buni Yani. Seolah-olah itu yang menjadi sumber masalahnya. Padahal MUI—yang telah menetapkan adanya penistaan al-Quran dan ulama oleh Ahok—dan  umat Islam bukan hanya menonton bahkan memelototi pidato Ahok dan tahu kalimat ucapan Ahok secara utuh.

Ada atau tidak kata pakai tetap mengandung makna penistaan. Jika tidak ada kata pakai, “… karena dibohongin surat al-Maidah 51 macem-macem itu…”, maknanya yang membohongi adalah surat al-Maidah 51. Itu sama artinya langsung menuduh al-Quran bohong dan Allah SWT yang menurunkan al-Quran juga bohong. Adapun jika ada kata pakai, “… karena dibohongin pakai surat al-Maidah 51 macem-macem itu…”, kalimat ini tetap menistakan al-Quran. Itu berarti, surat al-Maidah 51 dinilai Ahok sebagai alat kebohongan. Hal itu sama saja dengan menuduh al-Quran mengandung kebohongan sehingga bisa digunakan untuk membohongi. Ucapan itu juga menuduh siapa saja—termasuk Rasul saw., para Sahabat atau para ulama yang menyatakan larangan menjadikan orang kafir sebagai pemimpin dengan hujjah surat al-Maidah 51—telah melakukan pembohongan. Jadi, ada atau tidak kata pakai sama saja bermakna penistaan terhadap al-Quran.

Selain itu publik menangkap kesan bahwa proses hukum direkayasa untuk membebaskan Ahok. Kadiv Humas Polri Irjen Boy Rafli Amar menyatakan bahwa keterangan para saksi ahli akan menjadi pegangan bagi penyidik untuk membuat kesimpulan kasus ini (DetikNews, 6/11). Setidaknya ada 10 orang saksi ahli yang dimintai keterangan, 7 di antaraya adalah ahli yang dihadirkan oleh penyidik (DetikNews, 5/11).  Berbagai informasi berseliweran bahwa saksi-saksi ahli sengaja dicari dari kalangan yang cenderung berpihak atau bahkan membela Ahok. Jika lebih banyak saksi ahli yang memberikan keterangan berpihak atau bahkan membela Ahok, maka Ahok bisa lolos dari jerat hukum. Jika itu terjadi, maka akan makin meneguhkan anggapan masyarakat bahwa rezim Jokowi dan Polri membela dan melindungi Ahok. Jika itu terjadi, boleh jadi akan berpotensi menimbulkan masalah yang lebih besar.

Selain itu, dengan proses seperti itu akan terjadi pertunjukkan “adu” cendekiawan, ulama, tokoh dan kiai dari kalangan umat Islam sendiri. Kekhawatiran terjadinya adu domba seperti itu makin besar manakala masyarakat juga merasakan adanya upaya untuk memunculkan tokoh, kelompok atau bahkan organisasi khususnya dari kalangan umat Islam yang membela Ahok. Sungguh menyedihkan jika antar orang Islam, kelompok orang, tokoh Islam, elemen umat Islam atau bahkan organisasi diadu-domba hanya karena Ahok yang telah menistakan al-Quran.

Kaum Munafik

Di luar itu semua, kasus Ahok ini telah menjadi seperti furqân (pembeda). Melalui kasus ini Allah SWT menunjukkan kepada umat Islam jatidiri setiap orang; siapa yang termasuk Muslim yang benar dan siapa yang termasuk golongan munafik. Allah SWT berfirman:
﴿ وَلَوْ نَشَاءُ لَأَرَيْنَا كَهُمْ فَلَعَرَفْتَهُمْ بِسِيمَاهُمْ وَلَتَعْرِفَنَّهُمْ فِي لَحْنِ الْقَوْلِ ﴾
Kalau Kami menghendaki, niscaya Kami menunjukkan mereka kepada kamu sehingga kamu benar-benar dapat mengenal mereka dari tanda-tanda mereka dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka (QS Muhammad [47]: 30).

Saat menafsirkan ayat dia atas, Imam ath-Thabari menjelaskan, “Sungguh kamu akan mengetahui mereka dari tanda-tanda nifak yang tampak dari mereka dalam konteks ucapan dan perbuatan lahiriah mereka.”

Terkait kasus ini, setelah larangan menjadikan orang Yahudi dan Nasarani sebagai pemimpin dalam QS al-Maidah ayat 51, berikutnya Allah SWT menjelaskan bahwa sikap terhadap larangan itu akhirnya mengungkap jatidiri kaum munafik.
فَتَرَى الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ يُسَارِعُونَ فِيهِمْ
Lalu kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hati mereka (kaum munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani) (TQS al-Maidah [5]: 52).

Menurut Imam al-Qurthubi, juga Ibnu Katsir, yang dimaksud dengan penyakit dalam hati adalah syakk wa rayb wa nifâq (keraguan, kebimbangan dan kemunafikan). Ayat ini menyatakan dengan ungkapan “yusâri’ûna fîhim (bersegera mendekati mereka)”, yang menunjukkan bahwa sejak awal posisi orang munafik memang berada di pihak kaum kafir.

Allah SWT juga menegaska sifat orang munafik ini:
﴿بَشِّرِ الْمُنَافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا (138) الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ
Kabarkanlah kepada kaum munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, (yaitu) kaum yang menjadikan kaum kafir sebagai teman-teman penolong dengan meninggalkan kaum Mukmin (TQS al-Nisa’[4]: 138-139).

Melalui kasus Ahok ini, umat Islam harus mencatat dengan huruf tebal siapa saja orang, tokoh, cendekiawan, kelompok atau organisasi—melalui pendapat, sikap, perbuatan dan keberpihakan mereka—yang lebih rela membenarkan atau bahkan membela Ahok; termasuk siapa saja yang tidak merasa terusik sama sekali dengan penistaan oleh Ahok itu; juga siapa saja yang melecehkan sikap umat Islam, nyinyir memberikan komentar negatif, rajin memberikan ragam cap negatif terhadap sikap dan gerakan umat Islam. Umat harus mencatat bahwa mereka itu—siapapun mereka—adalah kaum munafik yang telah memusuhi Islam dan kaum Muslim.

Sinyal Kebangkitan
Aksi Bela Islam 2 memberikan sinyal berita gembira. Umat Islam bersikap, bergerak dan berkorban tidak lain karena dorongan iman, tauhid serta kecintaan dan pembelaan terhadap al-Quran. Amien Rais, ketika menggambarkan fenomena itu, menulis di Republika, “Tidak mungkin ada seorang tokoh dengan kharisma sehebat apa pun, tidak ada koodinator lapangan (korlap) dengan biaya sebanyak apa pun, dan tidak ada kekuasaan yang berasal dari mana pun dapat menggerakkan jutaan anak bangsa dengan tuntutan yang sama.”

Apa yang terjadi juga menunjukkan bahwa persatuan umat Islam itu adalah sangat mungkin dan riil. Namun, persatuan itu tidak akan bisa diwujudkan dengan hal-hal duniawi, melainkan hanya bisa diwujudkan dengan Islam dan proyek-proyek meninggikan kalimat Allah SWT, membela al-Quran dan semisalnya.

Bergeraknya umat Islam secara bersama-sama semata-mata karena dorongan tauhid dan kecintaan pada al-Quran juga memberikan sinyal bahwa kebangkitan umat Islam adalah sangat mungkin dan riil. Kebangkitan itu diwujudkan dengan menyempurnakan bentuk pembelaan dan kecintaan pada al-Quran, yaitu dengan berjuang untuk mewujudkan penerapan al-Quran dan seluruh hukum-hukumnya secara total. Dengan kata lain, wujud kebangkitan umat itu adalah dengan berjuang bersama-sama untuk mewujudkan negara dan kekuasaan yang menerapkan syariah Islam, yakni dalam naungan sistem Khilafah Rasyidah ‘ala minhaj an-nubuwwah. Dengan itu segala bentuk penistaan al-Quran akan bisa dihilangkan. Dengan itu kecintaan dan pembelaan terhadap al-Quran akan bisa diwujudkan secara sempurna dan menyeluruh. WalLâh a’lam bi ash-shawâb. []

Komentar al-Islam:

Jika Kasus Ahok Jalan di Tempat, GNPF MUI Bakal Gelar Aksi Lanjutan (rmoljakarta.com, 8/11/2016).

1. Jika kasus Ahok jalan di tempat, berarti Pemerintah tak serius menyelesaikan kasus penistaan al-Quran oleh Ahok.
2. Jangan salahkan jika ada kesan di masyarakat bahwa Pemerintah cenderung membela Ahok, sang penista al-Quran dan ulama.
3. Jangan salah pula jika nanti masyarakat beranggapan bahwa Pemerintah turut berperan memicu kemarahan umat Islam.

Thursday, 10 November 2016

SYAFA'AT AL QUR'AN DI DALAM KUBUR

*Merinding bacanya... Semoga kita termasuk di dalam golongan orang ini...aamiin !!!*

*Pertolongan Al-Quran di Alam Kubur.*

*- Dari Sa’id bin Sulaim ra, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam  bersabda: “Tiada penolong yg lebih utama derajatnya di sisi Allah pada hari Kiamat daripada Al-Qur’an. Bukan nabi, bukan malaikat dan bukan pula yang lainnya.” (Abdul Malik bin Habib-Syarah Ihya).*

*Bazzar meriwayatkan dalam kitab La’aali Masnunah bahwa jika seseorang meninggal dunia, ketika orang - orang sibuk dgn kain kafan dan persiapan pengebumian di rumahnya, tiba -tiba seseorang yang sangat tampan berdiri di kepala mayat. Ketika kain kafan mulai dipakaikan, dia berada di antara dada dan kain kafan.*

*-Setelah dikuburkan dan orang - orang mulai meninggalkannya, datanglah 2 malaikat. Yaitu Malaikat Munkar dan Nakir yang berusaha memisahkan orang tampan itu dari mayat agar memudahkan tanya jawab.*

*Tetapi si tampan itu berkata: ”Ia adalah sahabat karibku. Dalam keadaan bagaimanapun aku tidak akan meninggalkannya. Jika kalian ditugaskan utk bertanya kepadanya, lakukanlah pekerjaan kalian. Aku tidak akan berpisah dari orang ini sehingga ia dimasukkan ke dalam syurga.”*

*Lalu ia berpaling kepada sahabatnya dan berkata,”Aku adalah Al quran yang terkadang kamu baca dengan suara keras dan terkadang dengan suara perlahan.*

*-Jangan khawatir setelah menghadapi pertanyaan Munkar dan Nakir ini, engkau tidak akan mengalami kesulitan.”*

*-Setelah para malaikat itu selesai memberi pertanyaan, ia menghamparkan tempat tidur dan  permadani sutera yang penuh dengan kasturi dari Mala’il A’la. (Himpunan Fadhilah Amal : 609)*

*Allahu Akbar, selalu saja ada getaran haru selepas membaca hadits ini. Getaran penuh pengharapan sekaligus kekhawatiran. Getaran harap karena tentu saja mengharapkan Al-Quran yang kita baca dapat menjadi pembela kita di hari yang tidak ada pembela. Sekaligus getaran takut, kalau-kalau Al-Quran akan menuntut kita.*

*Yaa Allah… terimalah bacaan Al-Quran kami. Sempurnakanlah kekurangannya.*

*Banyak riwayat yang menerangkan bahwa Al-Quran adalah pemberi syafa’at yang pasti dikabulkan Allah Subhana wa Ta'ala Aamiin..*

*Oleh: Prof.DR. Ahmad  Sathori Ismail.*

Penemu 4G Orang Indonesia

Dr. Eng. Khoirul Anwar (lahir di Kediri tahun 1978) adalah seorang ilmuwan Indonesia. Ia dikenal sebagai pemilik paten teknologi broadband yang menjadi standard internasional ITU, baik untuk sistem teresterial (di bumi) maupun satelit (di luar angkasa).

Latar Belakang

Ia telah menemukan teknik transmisi wireless dengan dua buah fast Fourirer transform (FFT), yaitu FFT kecil dan (I)FFT besar (dua pada transmitter dan dua pada receiver). Teknik ini mendapatkan penghargaan pada Januari 2006 dari IEEE Radio and Wireless Symposium (RWS) tahun 2006, di California dan menjadi standard international telecommunication union (ITU), ITU-R S.1878 and ITU-R S.2173.
Teknologi ini (beserta modifikasinya untuk multiple access) menjadi basis dari single carrier frequency division multiple access (SC-FDMA) yang dipakai pada uplink 4G LTE. Keuntungan dari penggunaan dua FFT tersebut adalah: (1) mampu meminimalkan dinamic range power sehingga efisien dan tahan terhadap nonlinearity pada amplifier, dan (2) untuk mendapatkan efek frequency diversity (karena FFT kecil/pertama melakukan "spreading" atau redundansi yang disebar ke seluruh subcarrier di (I)FFT besar/kedua) sehingga memiminalkan error pada penerima. Teknik ini sangat bermanfaat untuk sistem komunikasi broadband yang disertai dengan channel coding (karena efek broadband menyebabkan terjadinya frequency selectivity yang baru bisa diambil manfaatnya dengan menggunakan channel coding). Teknik ini telah dipatenkan tahun 2005 dengan mendapatkan full support (dana) dari pemerintah Jepang.
Dr. Khoirul Anwar adalah anak dari pasangan (almarhum) Sudjiarto dengan Siti Patmi. Pria kelahiran Kediri ini adalah alumni Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung, lulus dengan predikat cumlaude pada tahun2000, wisudawan terbaik fakultas teknologi industri (FTI) dan tiga wisudawan terbaik se-ITB tahun 2000. Sebagai bentuk penghargaan Khoirul didaulat menjadi pembicara pada wisudawan ITB, Oktober 2000. Setelah bekerja di perusahaan IT di Jakarta selama sekitar dua tahun, Khoirul kemudian melanjutkan pendidikan S2 dan S3 di Nara Institute of Science and Technology (NAIST) dan memperoleh gelar M. Eng pada tahun 2005 serta Dr. Eng pada tahun 2008.

Pendidikan

  • SD Negeri Juwet 2 (1990).
  •  
  • SMP Negeri 1 Kunjang (1993).
  •  
  • SMA Negeri 2 Kediri (1996).
  •  
  • S1 Teknik Elektro ITB (2000).
  •  
  • S2 Nara Institute of Science and Technology NAIST (2005).
  • S3 Nara Institute of Science and Technology NAIST (2008).

Mahasiswa, Kalian Di Mana ???

*Mahasiswa, Kalian Di Mana???*
_Achmad M Akung_
_Dosen psikologi UGM dan UNPAD_

Kepada pewaris peradaban, yang telah menggoreskan
Sebuah catatan kebanggaan di lembar sejarah manusia….

Dik, boleh aku berkisah kepadamu?
Tentu bukan kisah 1908 tentang Dr. Soetomo yang telah lampau
Bukan pula kisah lama 1928 tentang sumpah pemuda yang mulai kita lupakan itu
Atau kisah patriotik 1945 tentang proklamasi dan perang kemerdekaan yang kini terasa usang…

Ijinkan saya hanya bertutur kisah tahun 1966 tentang Tritura dan Ampera….Belum terlalu jadul bukan???
Mengertikah engkau makna ceceran darah di jaket kuning Arief Rahman Hakim…
Ijinkan pula saya bercerita tentang kemaren sore. Ya, 1998 itu seakan baru kemarin sore.
Tidakkah kalian tahu, betapa banyak senior kalian yang bertumbangan di Semanggi
Berikhtiar membela rakyat, menegakkan reformasi?

Dik
Bolehkah aku beritahu,
Negeri tidak dicita untuk lucu-lucuan
sebagaimana stand up comedy yang kalian gandrungi
Indonesia tidak semestinya dikelola dengan cengengesan
Karena ia diperjuangkan dengan sepenuh hati
dengan darah, air mata, jiwa dan raga para pahlawan kita

Mahasiswa, kalian di mana?
Ketika subsidi BBM dibegal entah ke mana
Mungkin dialihkan ke BUMN yang tengah dahaga
Atau ke gedung DPR untuk jatah parpol berpesta
Tinggallah minyak yang kapan saja bisa naik harga
Rupiah tumbang kehilangan keperkasaannya
lalu kalian masih bicara semua baik-baik saja…

Mahasiswa, kalian di mana?
Ketika banyak orang diperdaya pencitraan
Ketika hukum dinista dengan benderang
Ditafsirkan sekenanya untuk beroleh kekuasaan
Bukan berpihak pada kebenaran
Para penegaknya disandera dan diadu laiknya domba
Lihatlah betapa KPK disandera, diperdaya dan dilumpuhkan

Mahasiswa, kalian di mana???
Ketika harga-harga melambung tak terkira
Dari beras hingga tarif kereta
Dari listrik hingga pajak yang mencekik
Dari materai hingga cabai, pun pula petai
Semua seolah berlomba untuk berganti harga…

Dik…
Bagaimana kalian tetap gembira menimba ilmutatkala rakyat kalian menimba lara???
Bagiamana kalian bisa tanpa gundah kuliah, sedang rakyatmu tengah berkalang resah??
Bagiamana kalian bisa tanpa resah kuliah, sedang rakyatmu tengah berkubang gundah???
Sungguh kami tak mengerti, karena kami tak pernah ajarkan itu kepadamu….

Dik…
Tidakkah engkau tahu….
bahwa negara mensubsidi ongkos kuliahmu?
Tidak bolehkah aku beritahu ….
bahwa rakyatmu lah yang mensubsidi sekolahmu
lewat pajak yang sebagian lalu dikorupsi berjamaah itu
Ya, pajak yang dibayarkan dengan terengah2, dalam sengal nafas kaum papa..
Dalam duka kaum miskin yang kian terhimpit harga-harga yang melangit….
Dalam rintih yang melirih, karena meraka tidak tahu kemana mesti mengadu(h)

Dik…
Apakah jalan terjal kuliah itu membuat idealisme kalian lantas punah???
Apakah teori-teori itu lantas membuat hati kalian menjadi mati???
Apakah peliknya skripsi membuat kalian kelu hati???
Apakah deretan angka-angka itu membuat akal sehat kalian binasa???
Apakah kurikulum yang mesti kalian tempuh membuat jiwa kalian menjadi lumpuh??
Apakah diktat-diktat yang tebal itu membuat otak kalian justru menjadi bebal???
Apakah sibuk mengejar nilai itu membuat kalian lantas kehilangan sistem nilai dan jati diri???
Apakah tugas-tugas yang besok mesti terkumpul itu membuat otak kalian menjadi tumpul???

Dik…
Lalu, kalian bertumbuh menjadi generasi rapuh
Belajar berdiskusi perihal rakyat di kafe-kafe yang mewah
Belajar problem solving di tengah hingar bingar musik diskotik yang hedonis
Belajar soal kebangsaan di mal-mal kota yang kapitalis
Belajar perihal cinta bangsa dari drama-drama korea yang sok romantis
Belajar nasionalisme sekedar dari menyusuri luasnya lapangan futsal

Dik,
Indonesia kembali memanggilmu
Rakyat kembali merindumu
Nusantara mendamba hadirmu
Pertiwi mengundang baktimu

Dik,
Kalian tidak lagi berperang angkat senjata
Kalian tidak berperang melawan Belanda
Tapi, sempatkan sedikit waktu untuk belajar berperang
belajarlah tentang perang asimetrik
Ketahuilah bahwa negeri ini diincar dari segala penjuru
bukan sekedar belajar peran-perangan ala Clash of Clans itu

Dik
Sempatkan diri untuk lebih serius berlajar
Belajarlah berempati pada rakyatmu yang tengah kesrakat
Bukan sekedar bermain PS empat
Belajarlah cerdas berorasi
Bukan sekedar hingar-bingar musik pensi
Belajarlah tajam menganalisis
Bukan sekedar berfoto narsis
Belajarlah tampil menginspirasi
Bukan bangga dikerjai jadi penonton acara live di studio TV

Dik,
Bagaimana kalian akan bertumbuh menjadi pribadi kebanggan bangsa
jika kepada dosenmu kalian telah tanggalkan etika dan tatakrama
Bagaimana kalian akan bertumbuh menjadi mahasiswa juara,
jika bangunmu masih saja kesiangan karena begadang nonton bola...
Bagaimana kalian akan menjadi hebat jika kalian telah tanggal semangat
Bagaimana akan menjadi benteng kokoh rakyat jika hatimu masih saja rapuh
Bagaimana pula menjadi pembela jika hatimu masih saja lara tersebab asmara
Bagaimana kalian akan menjadi mahasiswa dengan prestasi kemilau jika hatimu masih saja galau

Dik….pintaku
Kenakan kembali jas almamater kebanggaanmu
Apapun warnanya, bersatu padulah
membisikbangun kekuatan moral intelektual
Buang jauh-jauh tongsismu
Kantongkan sejenak gadgetmu
Bubarkan klan CoC mu
Tanggalkan PS mu
Campakkan PB mu
Tinggalkan medsosmu
Shutdownkan games online mu

Sesaat saja….kali ini saja….
Senyampang masih ada waktu,
Kenakan jas almamatermu
dengan bangga dan sukacita, apapun warnanya

Dik,
Jaga amanah Tuhan bernama status muliamu sebagai mahasiswa
Karena ia tidak Tuhan sematkan pada semua manusia
Ingatlah bahwa agen of change bukan sekedar mantra-mantra berbusa
Social kontrol bukan sekedar soal omong kosong yang tolol belaka
Iron stock bukan sekedar cerita gagah-gagahan yang dusta
Cerdas cendekia bukan bukan di otak semata, tetapi di laku yang mulia

Dik,
Cerdaslah, pandailah, kritislah, bijaklah dan beranilah!!!
Toyor pemerintahmu jika kalap menaikkan pajak dan upeti
Tegur pemerintahmu jika mereka merampok dan membegal kekayaan negeri ini
Tampar pemerintahmu jika mengobral kekayaan negara kepada kapitalis asing….
Bela rakyatmu, bela negaramu, bela bangsamu, dan bela tanah airmu…..
Kritisi pemerintahmu jika berlaku tidak amanah, culas dan menipu saudaramu

Berdirilah gagah di barisan terdepan menjaga Indonesia, Anak Muda
Hadapi dengan watak ksatria para penjajah dan para pengkhianat bangsa
Karena, pada pundak kalian lah, kelak negeri ini akan dititpsejahterakan
Di jiwa dan raga kalian, Republik ini akan dipertaruhkan

Mana darah juangmu, intelektual muda ?!?!
Mestinya kalian di sini, Mahasiswa
Membersamai saudaramu, rakyat Indonesia…

Sebuah Celoteh
#Mahasiswa, Kalian di mana? ‪#SavemahasiswaIndonesia‬