Pages

Saturday, 12 November 2016

Kisah nyata yg terjadi pada thn 1892 di Stanford University. (Wajib Di Baca Karena Banyak Pesan Moralnya)

JUST DO IT !!!

Ini kisah nyata yg terjadi pada thn 1892 di Stanford University.

Pesan moralnya masih relevan saat ini.

Ada seorang mahasiswa muda berusia 18 tahun yg berjuang utk membayar biaya kuliahnya.

Dia seorang yatim piatu, dan tidak tahu ke mana harus mendapatkan uang.

Akhirnya dia dapat ide yg cemerlang.

Bersama seorang temannya, ia memutuskan utk menggelar  konser musik di kampus guna mengumpulkan uang utk biaya pendidikan mereka.

Konser itu mereka adakan dgn mendatangkan pianis besar Ignacy J. Paderewski.

Manajer sang pianis  meminta biaya sebesar $ 2.000 untuk konser piano.
Sebuah kesepakat an pun terjadi.

Dua anak muda itu pun mulai bekerja untuk membuat konser sukses.

Hari besar tiba. Paderewski akan melaksanakan konser piano di Stanford University.

Tapi sayangnya, si kedua mahasiswa tidak berhasil menjual tiket sesuai target. Total tiket yg terjual hanya $ 1,600.

Keduanya kecewa, Mereka lalu pergi ke Paderewski dan menjelaskan keadaan mereka.

Mereka memberikan seluruh uang $1,600, ditambah dgn cek sebesar $ 400.

Kedua mahasiswa tsb berjanji utk melunasi cek cepatnya.

"Tidak" kata Paderewski. "Aku tidak dapat menerima." Dia menyobek cek, mengembalikan uang $1,600 sambil berkata kpd kedua mahasiswa, "Ini uang $1,600 kalian ambil. Gunakanlah untuk biaya kuliah kalian.

Aku akan mainkan konser piano tanpa perlu kalian bayar !"  

Kedua mahasiswa  terkejut, dan mengucapkan terima kasih yg sebesar-besarnya.

Bagi Padwrewski, yg dilakukan nya adalah tindak kebaikan yg kecil.

Tapi  jelas itu menunjuk kan bhw Paderewski seorang manusia yang besar.

Mengapa ia harus membantu kedua mahasiswa tsb yg bahkan dia tidak kenal sama sekali ?

Kita semua juga sering menemukan situasi seperti ini dalam hidup kita.

Dan kebanyakan dari kita hanya berpikir "Jika saya membantu mereka, apa yang akan terjadi padaku?"

Kalau seseorang itu benar2 baik dan bijak, dia akan berpikir, "Jika saya tidak membantu mereka, apa yang akan terjadi dgn mereka ?".

Orang2 yg baik dan bijak tidak akan melakukannya dengan mengharapkan balasan.

Mereka melakukannya karena mereka merasa itu adalah hal yg benar yg harus dilakukan.

Sebagaimana diketahui, Paderewski kemudian menjadi Perdana Menteri Polandia.

Dia seorang pemimpin yg besar, tapi sayangnya ketika Perang Dunia I dimulai, Polandia dilanda kelaparan.

Ada lebih dari 1,5 juta orang kelaparan di negaranya, dan tidak ada uang utk memberi makan mereka.

Paderewski tidak tahu ke mana harus berpaling utk minta bantuan.

Dia mengulurkan tangan ke Administrasi Makanan dan Bantuan AS untuk minta bantuan.

Presiden AS saat itu, Herbert Hoover, setuju utk membantu dan cepat dikirim berton-ton bahan makanan utk rakyat Polandia yg kelaparan.

Akhirnya sebuah bencana dapat dihindari.
Paderewski lega.

Dia memutuskan utk pergi bertemu dgn Hoover secara pribadi guna berterima kasih kpdnya.

Ketika Paderewski mengucap kan terima kasih kpd Hoover atas sikap mulianya, Hoover cepat menyela dan berkata, "Anda tidak harus berterima kasih kpd saya, Pak Perdana Menteri.

Anda mungkin sudah lupa, tetapi saya tidak akan pernah dapat melupakannya.

Beberapa tahun yg lalu, Anda membantu biaya kuliah dua mahasiswa muda di Stanford University. Saya adalah salah satu dari mereka...."

Dunia adalah tempat yg indah.

Apa yg terjadi di sekitar kita biasanya datang dari apa yg telah kita lakukan.

Pada saat kita ada kesempatan utk membantu sesama, JUST DO IT !!!

Jangan pernah meng- hitung2 mengharapkan balas budi.

Kita tidak perlu tahu dari mana dan
 dgn cara apa balasan itu akan datang kepada kita.

Sumber:
http://amazingreallifeinfo.blogspot.co.id/2014/03/a-time-of-need-story-of-herbert-hoover.html?m=1

ibu..ibu.. Bagi yg mempunyai anak laki-laki.. Mohon lebih diawasi lg dalam bermain

Assalamu'alaikum.. saya dapat dr group sebelah
🌀ibu..ibu.. Bagi yg mempunyai anak laki-laki.. Mohon lebih diawasi lg dalam bermain
🌀saya kaget banget denger cerita anak2 main stater2 an..
Tadi nya sy gak ngerti..😓 apaan sih main stateran itu..
🌀ternyata... Astagfirullohal adziiim.. Jadi mainnya, ada satu anak yg di pegang sama 2 orang temanya.. Trus (maaf) kemaluanya di puter/di gesek2 pake kaki teman yg lain (nauzubillah)
🌀trus karna penasaran, murid2 sy yg laki2 di Tpa malam dan sore sy pulangin belakangan..
Saya tanya, apa mereka pernah main seperti itu..😔
🌀saya kaget banget, ternyata.. Mereka pernah main dan ada juga yg sampai bengkak kemaluanya😔😔
Bahkan anak2 SMP pun main seperti itu pengakuan mereka..
🌀saya tanya ke anak yg suka stater temanya.. Ternyata mereka juga di stater sm kakak2 nya kalau lagi main.. Astagfirulloh..😭😭
🌀ibu2.. Tolong lebih di perhatikan lg ya putra2 nya kala bermain, dan apabila pulang main menangis (biasanya mereka gak mau cerita kalau gak di desak)
Karna mungkin takut sama teman mainya yg sdh usia SMP
🌀mohon maaf jika ada yg salah...
Saya hanya ingin berbagi informasi kepada ibu2..
Mungkin ada ibu2 yg blom tau seremnya permainan anak2 jaman sekarang..😭😭
🌀saya merasa bertanggung jawab selaku guru Tpa mereka unt menginformasikan hal ini ke ibu2 semua..

Wassalamu'alaikum wrwb...


Friday, 11 November 2016

Cara Mengubah Jaringan 4G di Hp Xiaomi Redmi Note 3 Pro

Cara nya adalah... 
1. Siapkan SIM ejector/alat buka kartu
2. Colokkan SIM ejector nya ke SIM tray, jangan di lepas, biarkan terbuka dikit aja yang penting SIM tidak terdeteksi.
3. Lepas SD card (jika pakai) biar aman, cara nya buka pengaturan, pilih penyimpanan, lalu gulir ke bawah di menu SD card, lalu pilih “Lepaskan penyimpanan bersama” klick OK
5. masuk ke “pengaturan, lalu pilih phone information 1
6. pilih CDMA only, kembali ke “pengaturan” pilih “kartu SIM dan jaringan seluler”
7. masukkan SIM card nya lagi/tekan lagi SIM tray nya hingga SIM terbaca di HP.
8. pilih nama jaringan yang SIM 1, pilih tipe jaringan prioritas, lalu pilih global/semua
9. tunggu, hingga muncul jaringan 4G
Smoga Bermanfaat :) 
~ Yuni Kastuti, S.T 

Biodata Fatih Seferagic pecinta Al-Qur'an

Nama Lengkapp: Fatih Seferagic
Tempat Lahir : Stuttgart, Maret 1995
Agama : Islam
Kebangsaan : Bosnia
Tempat tinggal : Texas-USA
Pekerjaan : Mahasiswa dan Guru Quran
Hobi : Membaca Al-Quran
Muda dan juga tampan itulah pendapat sebagian besar orang ketika melihat sosok seorang Fatih Seferagic. Pemuda yg sekarang ini tinggal di Amerika Serikat ini akhir2 ini mencuat ke publik karena video yang ia unggah di sosial youtube.
Suara lantunan ayat2 suci yg ia bawakan sgt mempesona ketika di dengarkan. Tak sedikit pun ada cerminan kalau dia tinggal di Amerika Serikat yg mayoritas bukanlah negara Muslim.
Pemuda tampan ini mulai belajar menghafal Al-Quran sejak usianya menginjak sembilan tahun. Dia belajar di Islamic Society of Baltimore, Maryland, di bawah asuhan Syaikh Qari Zahid dan Qari Abid. Belajar ilmu agama selama tiga tahun, akhirnya Fatih berhasil menghafal seluruh ayat Alquran.
Sudah hafal Al-Quran pada usia 12 thn tidak membuat Fatih seferagic puas dg pencapaiannya. Dia masih melanjutkan belajar ilmu agama dgn menghafal hadis-hadis Nabi Muhammad SAW. Pada tahun 2010, dia masuk ke Bayyinah Dream Program utk belajar bahasa Arab.
Fatih tak hanya pandai dlm ilmu agama, namun dlm kehidupan sosial pun dia aktif, termasuk ikut sejumlah organisasi. Dia menjadi ketua Remaja Masjid Shaykh Yasir Birjas di Dallas, Texas. Tak hanya itu, Fatih jg bergabung sebagai penulis dlm situs Islam yg membahas permasalahan remaja, Muslim Youth Musing.
Sbg remaja pd umumnya, Fatih juga memiliki akun media sosial, seperti Facebook & Twitter. Tahun lalu, pengikut Twitternya sudah puluhan ribu. Sementara, akun Facebooknya, per Jumat 8 Agustus 2014, sudah diikuti oleh 301.653 orang. Melalui akun media sosial itulah Fatih berinteraksi dg orang2 dr berbagai penjuru dunia. Hebat ya sob padahal ia baru beberapa bulan mempunyai akun fb dan twitter.
Sebagai pemuda Indonesia yg beriman, kita wajib mencontohnya & jangan kalah ya dgn si Fatih ini. Kalau dia saja bisa pasti kita juga bisa. Apalagi di negara kita ini mayoritas adl pemeluk agama Islam. Seharusnya kita lebih gampang utk mendapatkan ilmu Islam. Namun semua tergantung pd diri kita sendiri mau belajar/tidak.

Imam Besar Katolik Ini Menangis Akui Kebenaran Islam di Depan Jemaatnya

Imam Besar Katolik Ini Menangis Akui Kebenaran Islam di Depan Jemaatnya http://tz.ucweb.com/11_qtPH

MENJAJAH TAK HARUS DENGAN PERANG

MENJAJAH TAK HARUS DENGAN PERANG

Andai Belanda dulu tahu cara menguasai Nusantara cukup dengan memakai UU No. 40 Tahun 2007 (Penanaman Modal Asing) tentu Belanda tidak perlu Menjajah dengan jalan Berperang...

Namun lihat kini, Melalui UU Investasi Asing, Negara-negara Asing Justru dengan sangat mudah menguasai Kekayaan Negeri ini tanpa harus melakukan Perang.

Melalui Peraturan Kontrak Karya, Negara Asing diperbolehkan Mengelola SDA, bahkan memilikinya dengan Saham Mayoritas. Asing juga boleh untuk memiliki Daerah, Pulau, Tanah dan Wilayah dengan Alasan Penanaman Modal.

Ini adalah bentuk Penjajahan. Penjajahan yang tidak membutuhkan Pertumpahan Darah dan kontak senjata.

Negara Asing cukup menguatkan Kaki Tangannya untuk memuluskan Penjajahannya dari Orang atau Lembaga yang diberi wewenang untuk membuat Peraturan UU.

Sadarkah Anda Wahai Rakyat Indonesia??? Bahwa sekarang Anda sedang di jajah???

#Bangunlah

SINYAL KEBANGKITAN UMAT ISLAM

*Al-Islam edisi 830, 11 Shafar 1438 H – 11 November 2016 M*

Aksi Bela Islam II telah berlangsung pada Jumat 4 November 2016 lalu. Aksi tersebut diikuti oleh lebih dari satu juta (bahkan ada sebagian media yang menyatakan lebih dari dua juta) orang dari kaum Muslim. Foto-foto dari udara yang dimuat di berbagai media sudah lebih dari cukup menjadi bukti besarnya jumlah peserta aksi itu. Peserta aksi pun berasal dari seluruh Indonesia; dari Aceh hingga Papua; dari yang usia muda sampai lanjut usia, laki-laki dan perempuan, dari rakyat biasa, profesional, artis hingga pejabat. Mereka pun berangkat atas biaya sendiri atau patungan. Masyarakat dari berbagai pelosok negeri ini bergerak ikhlas dan spontan menuntut hal yang sama: Adili Ahok, penista al-Quran dan penghina ulama!

Sayang, aspirasi peserta aksi terbesar sepanjang sejarah negeri ini tak bisa disampaikan langsung kepada Presiden Jokowi. Jokowi justru memilih untuk meninjau proyek kereta bandara Soetta-Jakarta Kota; satu agenda yang sesugguhnya bisa ditunda dan dilakukan kapan saja, atau diwakilkan kepada pejabat lainnya. Adapun aksi terbesar itu tentu tidak terjadi kapan saja, bahkan mungkin itu adalah kesempatan satu-satunya. Jokowi memilih “menghindar”; tidak menemui para ulama dan tokoh yang mewakili peserta aksi. Padahal sebelumnya Jokowi mau menerima para pelaku insiden Tolikara, juga bersedia menerima segelintir konglomerat bahkan di antaranya berstatus dicekal. Sikap itu sungguh menanamkan kekecewaan atau bahkan menorehkan luka di hati umat Islam.

Wapres JK akhirnya menerima para ulama perwakilan peserta aksi dengan didampingi Menko Pulhukam, Panglima TNI dan Kapolri. Jk memberikan jaminan bahwa proses hukum terkait Ahok akan dituntaskan dalam dua minggu. Presiden Jokowi melalui konferensi pers yang dilakukan dini hari pada 5 November juga menjamin, “Proses hukum terhadap saudara Basuki Tjahaja Purnama akan dilakukan secara tegas, cepat dan transparan.”

Namun, pada 5 November 2016, sehari setelah Aksi Bela Islam 2, Kapolri menyatakan bahwa jangka waktu dua minggu yang dijanjikan Pemerintah hanyalah untuk menentukan apakah Ahok jadi tersangka atau tidak (DetikNews, 5/11). Jika terbukti, Ahok jadi tersangka. Kalau tidak, kasus dihentikan (Merdeka.com, 5/11).

Terakhir Ahok malah kembali dikesankan tidak melakukan penistaan karena tidak adanya kata pakai dalam transkrip yang diunggah Buni Yani. Seolah-olah itu yang menjadi sumber masalahnya. Padahal MUI—yang telah menetapkan adanya penistaan al-Quran dan ulama oleh Ahok—dan  umat Islam bukan hanya menonton bahkan memelototi pidato Ahok dan tahu kalimat ucapan Ahok secara utuh.

Ada atau tidak kata pakai tetap mengandung makna penistaan. Jika tidak ada kata pakai, “… karena dibohongin surat al-Maidah 51 macem-macem itu…”, maknanya yang membohongi adalah surat al-Maidah 51. Itu sama artinya langsung menuduh al-Quran bohong dan Allah SWT yang menurunkan al-Quran juga bohong. Adapun jika ada kata pakai, “… karena dibohongin pakai surat al-Maidah 51 macem-macem itu…”, kalimat ini tetap menistakan al-Quran. Itu berarti, surat al-Maidah 51 dinilai Ahok sebagai alat kebohongan. Hal itu sama saja dengan menuduh al-Quran mengandung kebohongan sehingga bisa digunakan untuk membohongi. Ucapan itu juga menuduh siapa saja—termasuk Rasul saw., para Sahabat atau para ulama yang menyatakan larangan menjadikan orang kafir sebagai pemimpin dengan hujjah surat al-Maidah 51—telah melakukan pembohongan. Jadi, ada atau tidak kata pakai sama saja bermakna penistaan terhadap al-Quran.

Selain itu publik menangkap kesan bahwa proses hukum direkayasa untuk membebaskan Ahok. Kadiv Humas Polri Irjen Boy Rafli Amar menyatakan bahwa keterangan para saksi ahli akan menjadi pegangan bagi penyidik untuk membuat kesimpulan kasus ini (DetikNews, 6/11). Setidaknya ada 10 orang saksi ahli yang dimintai keterangan, 7 di antaraya adalah ahli yang dihadirkan oleh penyidik (DetikNews, 5/11).  Berbagai informasi berseliweran bahwa saksi-saksi ahli sengaja dicari dari kalangan yang cenderung berpihak atau bahkan membela Ahok. Jika lebih banyak saksi ahli yang memberikan keterangan berpihak atau bahkan membela Ahok, maka Ahok bisa lolos dari jerat hukum. Jika itu terjadi, maka akan makin meneguhkan anggapan masyarakat bahwa rezim Jokowi dan Polri membela dan melindungi Ahok. Jika itu terjadi, boleh jadi akan berpotensi menimbulkan masalah yang lebih besar.

Selain itu, dengan proses seperti itu akan terjadi pertunjukkan “adu” cendekiawan, ulama, tokoh dan kiai dari kalangan umat Islam sendiri. Kekhawatiran terjadinya adu domba seperti itu makin besar manakala masyarakat juga merasakan adanya upaya untuk memunculkan tokoh, kelompok atau bahkan organisasi khususnya dari kalangan umat Islam yang membela Ahok. Sungguh menyedihkan jika antar orang Islam, kelompok orang, tokoh Islam, elemen umat Islam atau bahkan organisasi diadu-domba hanya karena Ahok yang telah menistakan al-Quran.

Kaum Munafik

Di luar itu semua, kasus Ahok ini telah menjadi seperti furqân (pembeda). Melalui kasus ini Allah SWT menunjukkan kepada umat Islam jatidiri setiap orang; siapa yang termasuk Muslim yang benar dan siapa yang termasuk golongan munafik. Allah SWT berfirman:
﴿ وَلَوْ نَشَاءُ لَأَرَيْنَا كَهُمْ فَلَعَرَفْتَهُمْ بِسِيمَاهُمْ وَلَتَعْرِفَنَّهُمْ فِي لَحْنِ الْقَوْلِ ﴾
Kalau Kami menghendaki, niscaya Kami menunjukkan mereka kepada kamu sehingga kamu benar-benar dapat mengenal mereka dari tanda-tanda mereka dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka (QS Muhammad [47]: 30).

Saat menafsirkan ayat dia atas, Imam ath-Thabari menjelaskan, “Sungguh kamu akan mengetahui mereka dari tanda-tanda nifak yang tampak dari mereka dalam konteks ucapan dan perbuatan lahiriah mereka.”

Terkait kasus ini, setelah larangan menjadikan orang Yahudi dan Nasarani sebagai pemimpin dalam QS al-Maidah ayat 51, berikutnya Allah SWT menjelaskan bahwa sikap terhadap larangan itu akhirnya mengungkap jatidiri kaum munafik.
فَتَرَى الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ يُسَارِعُونَ فِيهِمْ
Lalu kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hati mereka (kaum munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani) (TQS al-Maidah [5]: 52).

Menurut Imam al-Qurthubi, juga Ibnu Katsir, yang dimaksud dengan penyakit dalam hati adalah syakk wa rayb wa nifâq (keraguan, kebimbangan dan kemunafikan). Ayat ini menyatakan dengan ungkapan “yusâri’ûna fîhim (bersegera mendekati mereka)”, yang menunjukkan bahwa sejak awal posisi orang munafik memang berada di pihak kaum kafir.

Allah SWT juga menegaska sifat orang munafik ini:
﴿بَشِّرِ الْمُنَافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا (138) الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ
Kabarkanlah kepada kaum munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, (yaitu) kaum yang menjadikan kaum kafir sebagai teman-teman penolong dengan meninggalkan kaum Mukmin (TQS al-Nisa’[4]: 138-139).

Melalui kasus Ahok ini, umat Islam harus mencatat dengan huruf tebal siapa saja orang, tokoh, cendekiawan, kelompok atau organisasi—melalui pendapat, sikap, perbuatan dan keberpihakan mereka—yang lebih rela membenarkan atau bahkan membela Ahok; termasuk siapa saja yang tidak merasa terusik sama sekali dengan penistaan oleh Ahok itu; juga siapa saja yang melecehkan sikap umat Islam, nyinyir memberikan komentar negatif, rajin memberikan ragam cap negatif terhadap sikap dan gerakan umat Islam. Umat harus mencatat bahwa mereka itu—siapapun mereka—adalah kaum munafik yang telah memusuhi Islam dan kaum Muslim.

Sinyal Kebangkitan
Aksi Bela Islam 2 memberikan sinyal berita gembira. Umat Islam bersikap, bergerak dan berkorban tidak lain karena dorongan iman, tauhid serta kecintaan dan pembelaan terhadap al-Quran. Amien Rais, ketika menggambarkan fenomena itu, menulis di Republika, “Tidak mungkin ada seorang tokoh dengan kharisma sehebat apa pun, tidak ada koodinator lapangan (korlap) dengan biaya sebanyak apa pun, dan tidak ada kekuasaan yang berasal dari mana pun dapat menggerakkan jutaan anak bangsa dengan tuntutan yang sama.”

Apa yang terjadi juga menunjukkan bahwa persatuan umat Islam itu adalah sangat mungkin dan riil. Namun, persatuan itu tidak akan bisa diwujudkan dengan hal-hal duniawi, melainkan hanya bisa diwujudkan dengan Islam dan proyek-proyek meninggikan kalimat Allah SWT, membela al-Quran dan semisalnya.

Bergeraknya umat Islam secara bersama-sama semata-mata karena dorongan tauhid dan kecintaan pada al-Quran juga memberikan sinyal bahwa kebangkitan umat Islam adalah sangat mungkin dan riil. Kebangkitan itu diwujudkan dengan menyempurnakan bentuk pembelaan dan kecintaan pada al-Quran, yaitu dengan berjuang untuk mewujudkan penerapan al-Quran dan seluruh hukum-hukumnya secara total. Dengan kata lain, wujud kebangkitan umat itu adalah dengan berjuang bersama-sama untuk mewujudkan negara dan kekuasaan yang menerapkan syariah Islam, yakni dalam naungan sistem Khilafah Rasyidah ‘ala minhaj an-nubuwwah. Dengan itu segala bentuk penistaan al-Quran akan bisa dihilangkan. Dengan itu kecintaan dan pembelaan terhadap al-Quran akan bisa diwujudkan secara sempurna dan menyeluruh. WalLâh a’lam bi ash-shawâb. []

Komentar al-Islam:

Jika Kasus Ahok Jalan di Tempat, GNPF MUI Bakal Gelar Aksi Lanjutan (rmoljakarta.com, 8/11/2016).

1. Jika kasus Ahok jalan di tempat, berarti Pemerintah tak serius menyelesaikan kasus penistaan al-Quran oleh Ahok.
2. Jangan salahkan jika ada kesan di masyarakat bahwa Pemerintah cenderung membela Ahok, sang penista al-Quran dan ulama.
3. Jangan salah pula jika nanti masyarakat beranggapan bahwa Pemerintah turut berperan memicu kemarahan umat Islam.