Pages

Wednesday, 23 November 2016

Ubah Penampilan

UBAH PENAMPILAN


Jika kita baru hijrah, baru ngaji, baru mulai serius mendalami agama, dan meninggalkan teman-teman, komunitas, hobi dan lingkungan yang tidak baik, maka ada baiknya kita juga ubah penampilan.

Karena penampilan luar itu mempengaruhi batin.

Syaikhul Islam dalam Iqtidha Shiratal Mustaqim mengatakan:

المشابهة في الظاهر تورث نوع مودة ومحبة ، وموالاة في الباطن ، كما أن المحبة في الباطن تورث المشابهة في الظاهر ، وهذا أمر يشهد به الحس والتجربة

"Penyerupaan penampilan dalam lahiriyah akan menimbulkan unsur kecintaan dan kesukaan serta loyalitas di dalam hati.

Sebagaimana juga kecintaan dalam hati akan menimbulkan penyerupaan dalam lahiriyah. Ini adalah perkara yang bisa dirasakan oleh indera dan terbukti oleh pengalaman".

Misalnya, kalau baru taubat dari menjadi pecinta musik, anak band, anak dugem, maka setelah hijrah ubahlah penampilan, jangan berpenampilan seperti anak band tapi "islami".

Baru taubat dari menjadi preman, maka setelah hijah ubahlah penampilan, jangan berpenampilan seperti preman tapi "islami".

Karena lama-kelamaan akan muncul kembali kecintaan pada maksiat yang ditinggalkan. Karena penampilan luar akan menjalar ke hati.

Ubahlah penampilan seperti penampilan orang-orang shalih, karena dengan demikian akan muncul kecintaan kepada ketaatan dan kepada orang-orang shalih, walaupun belum termasuk orang shalih.

Semoga Allah beri hidayah.

[ https://facebook.com/yulian.purnama ] | [17/11/2016 M]

Oleh
Al-Ustâdz Yulian Purnama

● Facebook https://facebook.com/yulian.purnama
● Kunjungi juga https://kangaswad.wordpress.com
● Follow juga twitter @kangaswad
● Join channel TG @silsilahsahihah
● Subscribe sound cloud https://soundcloud.com/yulian-purnama
● Subscribe youtube https://www.youtube.com/yulianpurnama

---

● http://muslim.or.id/author/yulian-purnama-s-kom
● https://muslimah.or.id/author/yulian-purnama
● http://pengusahamuslim.com/



♻ Republished by MRA Al-Jafari Al-Alabi
📁 Grup WA & TG : Dakwah Islam
🌐 TG Channel : @DakwahIslam

Share, yuk! Semoga saudara² kita mendapatkan faidah ilmu dari yang anda bagikan dan menjadi pembuka amal² kebaikan bagi anda yang telah menunjukkan kebaikan. آمِينَ.

Sunday, 20 November 2016

DAMPAK BURUK MENJAUH DARI MAJELIS ILMU

Dari ustadz Abu Hisyam...


Menjauh dari majelis ilmu dan pertemuan dengan para ikhwah serta menjauh dari kunjungan-kunjungan da’wah dapat mengeraskan hati.

Al Hasan al Bashri berkata: “Sahabat-sahabat kami lebih mahal daripada keluarga kami. Keluarga kami mengingatkan kami kepada dunia sedangkan sahabat-sahabat kami mengingatkan kami kepada akherat.'"
Usahakan selalu hadir di majelis ilmu atau minimal dua majelis ilmu dalam sepekan di masjid.

Jika anda beranggapan mendengar kaset (atau radio –red) saja sudah cukup maka anda keliru.

Sesungguhnya anda butuh hadir di masjid.

Ketika anda duduk di majelis ilmu dalam masjid, para malaikat akan mengelilingimu, sakinah (ketenangan) akan menaungimu, rahmat akan turun kepadamu dan Allah akan memujimu di hadapan para malaikat-Nya.

Demi Allah, ini sesuatu yang lain dari yang lain.

Oleh karena itu engkau dapati kebanyakan orang-orang yang tergelincir adalah orang-orang yang melalaikan majelis ilmu.

Rutinlah hadir di majelis ilmu, jagalah dan ikutilah jadwal-jadwalnya setiap pekan niscaya engkau memperoleh semangat keimanan yang baru.

Jika disana terdapat kekurangan maka akan segera membaik atau bila terdapat retak pasti tertutupi insya Allah.

Rahasianya, ketika engkau hadir di majelis-majelis ilmu,
keimananmu akan meningkat.

Kami dahulu selalu menyertai para masyaaikh di awal iltizam, lalu salah seorang sahabat kami absen.

Syaikh bertanya tentangnya, mereka berkata: “Ia sedang asyik membaca sebuah kitab sehingga tidak bisa datang”.

Syaikh berkata: “Kabarkan kepadanya bahwa pertemuanmu dengan sahabat-sahabatmu akan menambah keimanan dalam hatimu lebih banyak daripada engkau membaca kitab seorang diri”.

Memang benar, hadir di majelis-majelis ilmu untuk mencari berkah, barangkali ada salah seorang hadirin yang mustajab doanya.

Apabila ia mengaminkan doa syaikh niscaya akan dikabulkan doa dan Allah akan merahmati seluruh hadirin.

Dengan begitu engkau akan memperoleh kemenangan yang besar.

Dalam hadits disebutkan :

هُمُ الْقَوْمُ لاَ يَشْقَى بِهِمْ جَلِيْسُهُمْ

_“Mereka adalah satu kaum yang tidak akan rugi orang-orang yang bermajelis dengan mereka”._
(Muttafaq ‘alihi)

Oleh karena itu salah seorang sahabat Nabi berkata kepada temannya, “Bergabunglah bersama kami, kita meningkatkan iman sesaat”.

Kemudian apa yang engkau kerjakan apabila engkau tidak hadir?

Kesibukan-kesibukan dunia, ambisi-ambisi rendahan, bisikan-bisikan setan!

Masjid adalah rumah bagi setiap orang yang bertaqwa, masjidlah tempat kembali kaum mu’minin.

Kembalilah ke masjid, hadirilah halaqah ilmu.

Berlindunglah kepada Allah niscaya Allah akan melindungimu.

Janganlah berpaling, karena Allah akan berpaling darimu.

(Dari terjemahan Min Asbaab Al-Futur wa 'Ilaajuhu karya Muhammad Husain Ya'qub Pustaka At-Tibyan Solo, diterjemahkan oleh Ustadz Abu Ihsan Al Atsari, MA)

Saturday, 19 November 2016

Terhalang dari Telaga Al-kautsar karena mendukung penguasa zhallim

“Sesungguhnya akan ada sesudahku para pemimpin. Siapa saja yang membenarkan mereka di dalam kebohongan mereka dan membantu kezaliman mereka maka ia bukan golonganku dan aku pun bukan golongannya; ia tidak akan masuk menemaniku di telaga. Sebaliknya, siapa yang tidak membenarkan mereka di dalam kebohongan mereka dan tidak membantu kezaliman mereka, maka ia termasuk golonganku dan aku termasuk golonganny; ia akan masuk ke telaga bersamaku" (HR an-Nasai, al-Baihaqi dan al-Hakim).

Imam an-Nasa’i menyebutkan hadis ini di dalam bab “Dzikr al-Wa’îd li Man A’âna Amîran ‘alâ azh-Zhulmi” dari jalur Amru bin Ali, dari Yahya, dari Sufyan, dari Abu Hashin, dari asy-Sya’bi, dari ‘Ashim al-‘Adawi, dari Kaab bin Ujrah.

Al-Baihaqi mengeluarkannya dalam Sunan al-Kubrâ dari jalur Abu al-Hasan Ali bin Ahmad bin Abdan, dari Ahmad bin Ubaid ash-Shafar, dari Abu Ja’far ad-Daynuri dan al-‘Abbas bin al-Fadhl al-Asfathi; keduanya dari Ahmad bin Yunus, dari Sufyan, dari Abu Hashin dari asy-Sya’bi, dari ‘Ashim al-‘Adawi, dari Kaab bin Ujrah.

Al-Hakim mengeluarkannya dari jalur Abu Muhammad al-Isfirayini, dari Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, dari Harun bin Ishaq al-Hamdani, dari Muhammad bin Abdul Wahab al-Qanad, dari Sufyan, dari Mis’ar, dari Abu Hashin, dari asy-Sya’bi, dari ‘Ashim al-‘Adawi, dari Kaab bin Ujrah.

Makna Hadis

Hadis ini menyatakan larangan untuk membenarkan kebohongan penguasa dan membantu kezaliman mereka. Larangan tersebut sangat tegas, yakni hukumnya haram. Pelakunya divonis bukan golongan Rasul saw. dan Beliau pun bukan menjadi golongannya.

Hadis ini tidak menyatakan karakter penguasa yang dimaksud secara lugas. Namun, dari konteks kalimatnya dapat dipahami karakter penguasa itu, yaitu berbohong dan zalim. As-Sindi di dalam Syarh Sunan an-Nasa’i menjelaskan bahwa kalimat shaddaqahum bikadzibihim berasal dari at-tashdîq (pembenaran). Huruf al-bâ’ dalam bikadzibihim maknanya fî, yaitu bahwa mereka berbohong dalam ucapan. Lalu orang membenarkan perkataan mereka dan berkata kepada mereka, “Anda benar,” untuk mendekatkan diri kepada mereka.

Riwayat-riwayat lain menjelaskan secara gamblang karakter penguasa tersebut. Di antaranya:
1. Riwayat Ahmad dari an-Nu’man bin Basyir dan Hudzaifah: yakdzibûn wa yazhlimûn (berbohong dan zalim).
2. Riwayat ath-Thabrani di dalam Mu’jam al-Kabîr dari Abdan bin Ahmad, dari Muhammad bin Yahya al-Qathi’i, dari Muhammad bin Bakar al-Bursani, dari Hisyam bin Hassan, dari al-Hasan dari Kaab bin Ujrah: yu’thûna bi al-hikmah ‘alâ manâbir, fa’idza nazalû ikhtalasat minhum, wa qulûbuhum antanu min al-jîf (mereka menyampaikan hikmah di mimbar-mimbar; jika mereka turun (dari mimbar), hikmah itu terlepas dari mereka, sementara hati mereka lebih busuk dari bangkai).
3. Riwayat Ahmad dari Ibn Umar: ya’murûnakum bi mâ lâ yaf’alûn (memerintah kepada kalian apa yang tidak mereka lakukan).
4. Riwayat Ahmad, Abdurrazaq, al-Hakim dan al-Baihaqi dari Jabir bin Abdullah: Rasulullah saw. bersabda kepada Kaab bin Ujrah: “Aku memperingatkan kamu dari imârat[u] [a]s-sufahâ’ (kepemimpinan—pemimpin—bodoh); yaitu pemimpin yang “lâ yahdûna (yaqtadhûna) bi hadiyyi wa lâ yastannûna bi sunnati—tidak berpedoman (berpegang) dengan petunjukku dan tidak berjalan sesuai sunnahku.”

Al-Quran menilai siapa saja yang tidak berhukum dengan apa yang diturunkan oleh Allah, yaitu syariah Islam, paling rendah statusnya adalah zalim, lalu fasik dan bahkan bisa kafir (QS al-Maidah [5]: 44, 45, 47). Karena itu, penguasa atau pemimpin yang tidak memutuskan hukum (berhukum) dengan syariah tidak diragukan lagi adalah zalim. Allah melarang kita cenderung kepada orang-orang yang zalim (QS Hud [11]: 113). Jika cenderung saja dilarang, apalagi lebih dari itu.

Terhadap para penguasa atau pemimpin yang zalim itu, berdasarkan hadis di atas, kita dilarang melakukan dua hal. Pertama, membenarkan kebohongan mereka, yaitu menyatakan ucapan bohong mereka itu sebagai yang benar, tepat, bagus atau ungkapan senada lainnya. Kedua, membantu mereka di dalam kezaliman mereka itu. Bantuan atas kezaliman mereka itu bisa dalam bentuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu, yang dengan itu kezaliman mereka—termasuk aktivitas tidak menjalankan syariah—itu semakin kuat, tetap bertahan dan terus terjadi. Bantuan itu bisa dalam bentuk bersekutu, bersama-sama atau bekerjasama dengan mereka dalam menjalankan kezaliman mereka; memperkuat, menjalankan atau memperindah aktivitas kezaliman mereka; menahan diri tidak mau mengungkap kezaliman mereka, kerusakan sistemnya serta aktivitas dan jatidiri mereka; atau memuji-muji, membagus-baguskan kezaliman mereka. Apalagi jika mencarikan legalisasi bagi kezaliman mereka dengan jalan menakwilkan nash. Semua itu bisa dinilai sebagai bantuan kepada para penguasa atas kezaliman mereka. Bahkan mendoakan para penguasa itu agar tetap dalam posisinya dan tetap menjalankan aktivitasnya itu juga bisa dinilai sebagai bagian dari bantuan itu.

Wallâh a‘lam bi ash-shawâb. [Yahya Abdurrahman]

BRAVO AHMAD DANI ~

Catatan dari hasil konsolidasi semalam;

Kondisi negeri ini sdh mengkhawatirkan. Semalam br sy yakin setelah mndengar lgsung dr bu Rahmawati Soekarno dan bbrp Jndral TNI yg tergabung dlm GBN (gerakan bela negara).

Negeri ini sdh dijual ke amrik dan tiongkok olh mega cs (luhut dan jkw) imbalannya 2019 RI 1 tetap jkw dan RI 2 Ahok. Periode berikutnya RI 1 akan dipegang nashoro.

Makanya sekarang 5 mentri strategis sdh dipegang olh nashoro dan mrk sdh mulai melakukan kristenisasi di hampir semua posisi di pemerintahan. Ini didukung olh ummat Islam munafiqun yg hatinya sdh tertutup sangat krn sdh kena uang mereka.

Orng2 Nasionalis dan TNI sangat khawatir akan kbrlangsungan NKRI thd pengaruh komunis dan neolib.
Mrk akan mnuntut jkw mndur dan dilaksanakan sidang istimewa MPR utk kembali kpd UUD 45 PIAGAM JKRT. Mrk minta ummat Islam yg msh cinta NKRI utk bersama sama berjuang. Kalau ummat Islam menuntut utk menjalankan aqidahnya sesuai syariat Islam itu dijamin dlm UUD 45 PIAGAM JKRT

Sekarang tinggal kita ummat Islam pemegang saham terbesar negeri ini mau seperti apa nkri ke depan?

Kalau seorang Ahmad Dhani saja (semalam dia mengakui bhw pemahaman Islamnya msh liberal dan mohon doa para kyai agar dia kmbali pd kebenaran) berani mengeluarkan statemen bhw kalau Ahok jd presiden mk dia memilih utk mndukung Indonesia jd negara Islam...(kemudian dia cium tangan ke seluruh kyai yg hadir tadi malam)

hidup hina di bawah komunis,dan liberal ,,,atau jihad tinggikan kalimat ALLOH.....pilihan ada pd diri kt.                      BERSYUKUR KEPADA ALLAH YANG TELAH MEMPERLIHATKAN RENCANA BURUK PEMIMPIN KITA MELALUI AYAT ALMAIDAH 51 YANG KELUAR DARI MULUT AHOK

Allahu Akbar!!!     Ayuk Share Supaya Saudara2 kita yang Masih Membela Kembali Kejalan yang benar Semua yang dibilang HOAX, secara bersamaan terbukti.
1. Tentara China tertangkap di HALIM.
2. LION AIR internasional, menurunkan penumpang di kedatangan lokal.
3. Ratusan petani China menguasai lahan di Bogor, Puncak, Cianjur.
4. Penyelundupan manusia China via laut.
5. Ribuan tenaga kerja China menyerbu perkebunan di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi.

Jangan lupakan:
1. Puluhan pemuda China yang tertangkap menyedot suara di KPU saat Pilpres, yang  dimenangkan Jokowi.
2. Mobilisasi warga China yang tidak bisa bahasa Indonesia di TPS-TPS hingga pedesaan.
3. Penyelundupan Ribuan ton NARKOBA yang ditangkap BNN, belum yang tidak ditangkap.
4. Lelang BUMN ke China.

Umat Islam menjadikan AlMaidah 51, sebagai entrypoint melawan penjajahan China yang dibawa Megawati berikut bonekanya Jokowi dan Ahog.

Sayangnya. Masih ada saja kalangan pribumi dan Muslim yang terhipnotis duit recehan.

Sebuah Renungan "Umatku Polos, Umatku Malang"

Sebuah renungan:

*Umatku Polos, Umatku Malang*
Dr. Arief Munandar

Salah satu kesalahan umat Islam sejak dulu adalah polos, buta politik, bahkan alergi dan menarik diri dari politik. Ini adalah warisan konstruksi berpikir kolonial, di mana diset politik itu urusan orang kulit putih, bisnis itu urusan etnis Cina, sedangkan pribumi ya jadi petani, pegawai, atau buruh. Padahal kebijakan yang mengatur arah kehidupan berbangsa dan bernegara ditentukan melalui mekanisme politik.

Coba lihat betapa dahsyatnya permainan politik dan dampaknya. Dampak tersebut menjadi berkali lipat lebih luar biasa karena politik pasti berjalin-berkelindan dengan media.

Seorang Jokowi dalam waktu sangat singkat bisa naik dari Walikota Solo, jadi Gubernur DKI, lalu jadi Presiden. Hampir tidak ada yang mempersoalkan bahwa beliau tidak pernah menyelesaikan masa jabatannya sebagai Walikota dan Gubernur dengan baik. Paralel dengan itu, seorang Ahok bisa melesat dari Bupati Belitung Timur menjadi Wagub DKI, dan kemudian jadi Gubernur di Ibu Kota Negara.

Banyak umat Islam dengan polos melihat dua fenomena di atas sebagai kebetulan. Padahal orang yang belajar politik sedikit saja pasti paham, tidak ada kebetulan dalam politik. Selalu ada agenda, strategi dan skenario di balik setiap peristiwa. Selalu ada _master mind_ di belakang itu semua. Bahkan selalu ada penyandang dana yang berkepentingan memastikan bahwa dampak peristiwa poltik tersebut memberikan _benefit_ yang lebih besar ketimbang _cost_ yang dikeluarkan.

Sama naifnya kalau kita menganggap bahwa kebetulan Ade Komarudin menggantikan Setya Novanto yang terjerat kasus korupsi sebagai Ketua DPR RI. Lalu Setya Novanto, yang saat berkunjung ke AS hadir di kampanye Donald Trump, malah terpilih jadi Ketum Golkar. Apa mungkin Setya Novanto bisa jadi pucuk pimpinan Partai Beringin tanpa campur tangan Ical? Ohya, jangan lupa, Donald Trump adalah kandidat Presiden AS yang terkenal sangat anti Islam. Salah satu gagasan dalam kampanyenya adalah melarang masuknya muslim ke negara Paman Sam.

Cerita tidak berhenti di situ. Tak lama setelah Setya Novanto jadi bos Golkar, partai warisan Orba ini langsung menyatakan dukungan kepada Ahok untuk kembali menjadi DKI Satu, menyusul Nasdem dan Hanura yang sudah lebih dahulu menyorongkan dukungan.

Kelanjutannya kita semua sudah mahfum. Tindakan Ahok menggusur ribuan warga marjinal di Jakarta tidak pernah disorot media. Demikian pula dugaan korupsi dalam kasus pembelian lahan RS Sumber Waras tidak 'dikuliti' dengan antusias oleh para jurnalis.

Sebaliknya, kasus kecil razia Satpol PP terhadap seorang pedagang di Serang yang membuka warung di siang hari bulan Ramadhan diblow-up media dengan gegap gempita, dengan _angle_ yang menyudutkan umat Islam. Padahal Satpol PP hanya menegakkan Perda yang sudah bertahun-tahun berlaku di Serang, sebuah wilayah dengan 95% warga muslim. Kacaunya, Presiden dengan sangat patriotik menyumbang 10 juta untuk si pedagang. Bahkan para netizen menggalang dana hingga 130 juta sebagai wujud simpati.

Mengapa misalnya Jokowi tidak menyumbang dan para netizen tidak menggalang dana simpati yang sedemikian signifikan untuk para korban penggusuran Ahok? Apakah karena para warga marjinal itu melanggar Perda mengenai tata ruang sebagaimana selama ini didalihkan Ahok? Kalau begitu sama saja _bro_! Pedagang di Serang itu dirazia Satpol PP karena melanggar Perda yang mengatur jam buka gerai makanan selama Ramadhan.

Coba tengok bagaimana gegap gempitanya pemberitaan bahwa KPK menyatakan kasus RS Sumber Waras bebas dari korupsi, padahal BPK sebelumnya nyata-nyata mengindikasikan kerugian negara ratusan milyar dalam kasus ini. Sebaliknya, rentetan penggusuran yang dilakukan Ahok sepi-sepi saja di media. Kok bisa? Kebetulan? Pastinya tidak. Silakan lihat siapa bos besar di balik media-media kita.

Jadi kalau kita melihat banyak Perda bernuansa syariah dilucuti oleh regim Jokowi, itu _mah_ lumrah. Justru aneh kalau tidak begitu. Mungkin masih banyak yang belum _ngeh_ bahwa partainya Pak Jokowi ngotot mengubah isi UU Perkawinan tahun 1974 yang tidak merestui perkawinan beda agama. Partai tersebut juga berupaya menghilang ketentuan dalam UU Pendidikan Nasional yang nengharuskan sekolah menyediakan guru agama yang seagama dengan anak didiknya. Bahkan partai yang sama berada di barisan terdepan penentang UU Anti Pornografi.

Satu lagi. Di samping polos dan kurang melek politik, sebagian umat ini juga kurang tajam logikanya, sehingga mudah dijebak oleh kerancuan berpikir yang dihembuskan para politisi. Misalnya, Ahok kerap mengatakan, pilih mana antara pemimpin muslim tapi korup, atau pemimpin kafir tapi tidak korup. _Duh_, itu _fallacy of comparison_ namanya. Kita dipaksa memilih dua pilihan yang keduanya salah. Kita dibutakan sedemian rupa seolah tidak ada pilihan yang lain. Padahal, belum tentu saat ini pemimpin kafir yang tidak korup itu benar-benar ada. Padahal, belum tentu pemimpin kafir yang bicara begitu - _which is_ Ahok sendiri - benar-benar tidak korup. Padahal, banyak pemimpin muslim yang tidak korup

Jadi masih tetap mau polos dan apolitis?
Yuk kita belajar melek politik, semoga Allah lindungi indonesia dr org2 yg dzolim

BRAND TERBAIK DUNIA SEPANJANG MASA

Refrinal
refrinal@first-indonesia.co.id

Merek adalah kekayaan hakiki sebuah sebuah industri/perusahaan. Apapun dilakukan orang untuk membangun ekuitas atas merek, yang kemudian lebih dikenal sebagai ‘Brand Equity’. Nilai sebuah perusahaan tidaklah terletak pada jumlah asset-asetnya semata semata, seperti gedung perkantoran, pabrik, mesin-mesin produksi dan inventaris lainnya, namun termasuk kedalamnya nilai dari ekuitas dari merek tersebut.

Jadi ketika terjadi akuisisi pada sebuah perusahaan, seperti yang terjadi pada Sampoerna, maka Harga sebuah perusahaan adalah penjumlahan dari corporate equity dan Brand Equity. Jika diberi prosentase maka nilai Brand equity mencapai 90% bahkan lebih dan nilai corporate equity hanya maksimal 10% dari total nilai.

*SELAYANG PANDANG TENTANG EKUITAS MEREK*

Ekuitas atas merek (Brand Equity) menjadi pembahasan dan perdebatan para ahli strategi pemasaran di seluruh penjuru bumi dari masa ke masa, selama berabad-abad lamanya. Ratusan bahkan miliaran rupiah dikeluarkan untuk melakukan riset-riset untuk mencari merek-merek terbaik pada wilayah sebuah negara, bahkan diseluruh dunia.

Lembaga-lembaga riset pun melakukan penelitian secara berkesinambungan untuk mencari dan memilih merek-merek terbaik pada berbagai kategori untuk memperoleh penghargaan (award).
Di Indonesia, kita mengenal banyak sekali penghargaan yang dianugerahkan untuk merek-merek terbaik di negeri ini. Dan lembaga/badan riset yang berkompeten untuk hal ini diantaranya Frontier untuk Indonesia Customer Satisfactions Award (ICSA), MARS untuk Indonesia Best Brand Award (IBBA), MarkPlus untuk Superbrand, dan lain sebagainya. Penghargaan-penghargaan tersebut merupakan kebanggaan bagi merek yang terpilih sebagai merek terbaik, dan keberhasilan itu dapat dijadikan indikator keberhasilan dan prestasi sebuah merek di pasar.

Award tersebut merupakan materi iklan yang sangat baik untuk makin meningkatkan nilai ekuitas atas merek tersebut. Hampir semua produk yang memperoleh award menjadikan award tersebut sebagai salah satu attribute produk yang dibuat sangat menonjol diantara attribute lainnya, sehingga kita dapat melihatnya sebagai bagian dari design kemasan.

Konsumen pun tidak jarang menjadikan penghargaan tersebut sebagai alasan utama untuk tetap loyal terhadap merek yang digunakan saat ini (customer loyalty), mencoba merek tersebut (switcher) atau melakukan migrasi (customer migration), serta meninggalkan merek yang selama ini mereka gunakan (customer competitor).
Dari sini dapat ditarik hipotesa bahwa penghargaan atas merek dapat mempengaruhi perilaku pembelian konsumen atas merek pada kategori yang sama yang tidak ada subtitusinya, bahkan pindah ke merek lain walau beda kategori sekalipun, selama merek tersebut sesuai dengan ekspektasi konsumen.

*SEKILAS TENTANG METODA RISET*

Untuk mengukur brand value (brand equity), Proses pengidentifikasian hingga decision dilakukan dengan penelitian di lapangan dengan menggunakan metoda riset yang didesain dengan begitu baik dan terukur. Untuk penelitian lapangan, pengambilan sample dilakukan dengan probabilistic sampling, sehingga margins of error (MOE) bisa ditentukan. Total sample yang digunakan dengan asumsi populasinya infinite, jadi secara statistik, jika populasi melewati jumlah tertentu bisa dianggap infinite atau tak terhingga, secara total setiap sample memiliki MOE 1,79 %, dengan tingkat kepercayaan 95%.

Pengambilan sampling dalam pemilihan merek terbaik menggunakan metode multistage random sampling, yakni random sampling secara bertahap. Perhitungan brand value (brand equity) dilakukan dengan menggunakan kaidah mutually exlusive weighting factors, sehingga hasilnya dapat digeneralisir.
Dengan metoda riset inilah pemilihan merek terbaik di Indonesia, mungkin juga di negera-negara lain di dunia dilakukan dan metoda ini hingga saat ini tetap digunakan untuk menentukan merek-merek terbaik di sebuah kawasan.

Beberapa diantaranya telah memperoleh penghargaan beberapa kali karena mampu mempertahankan kinerja merek tersebut di mata pelanggan, diantara Garuda Indonesia untuk kategori penerbangan, Citibank untuk kategori kartu kredit, Kompas untuk kategori surat khabar, Kartini untuk kategori majalah, Electrolux untuk kategori elektronik, Coca Cola untuk kategori minuman, Philips untuk kategori lampu, Hawlet Packard untuk kategori Komputer, Canon untuk kategori printer, Sony untuk kategori kamera, rinso untuk kategori detergen dan lain sebagainya.

*EKUITAS MEREK DAN LOYALITAS MEREK*

Sebelum berbicara lebih jauh tentang ekuitas merek dan loyalitas merek, maka sebaiknya kita memahami dimensi-dimensi kedua hal tersebut secara baik. Tingkatan dimensi ekuitas merek, secara berturut-turut dari tingkatan yang paling rendah, adalah kesadaran merek (brand awareness), Persepsi kualitas merek (brand perceived quality), assosiasi merek (brand association) dan loyalitas merek (brand loyalty). Hampir tidak mungkin, bahkan dipastikan tidak mungkin (imposible) sebuah merek mencapai dimensi/tahapan brand loyalty tanpa melalui dimensi dan tahapan sebelumnya.

Berdasarkan tingkatan loyalitas dan kepuasan, terbagi atas 4 tingkatan. Tingkatan loyalitas keempat disebut Habitual Buyer, dimana konsumen yang puas terhadap produk, dalam mengkonsumsi suatu produk bersifat kebiasaan dan konsumen ini tidak ada masalah jika harus berpindah produk jika produk tersebut memberikan ketidakpuasan. Tingkatan loyalitas ketiga disebut Satisfied Buyer, dimana pada dasarnya konsumen puas, namun sebetulnya mereka menanggung biaya peralihan (switching cost), Biaya, waktu, dan uang, atau resiko kinerja berkenaan dengan tindakan beralih merek. Tingkatan loyalitas kedua adalah Like the Brand, dimana konsumen yang sungguh-sungguh menyukai merek dan menganggap merek sebagai sahabat, serta tingkatan loyalitas pertama, yang merupakan tingkatan tertinggi disebut Commited Buyer, dimana pelanggan yang setia, mempunyai kebanggaan dalam menemukan atau menjadi pelanggan dari merek. Pada tingkat ini salah satu ciri loyalitas pembeli ditunjukkan oleh tindakan merekomendasikan dan mempromosikan merek tersebut kepada orang lain.

Sama halnya dengan ekuitas merek, maka tidak satupun merek yang ada, bahkan tidak mungkin untuk merek terbaik dunia sekalipun, yang memiliki tingkat loyalitas konsumen atas merek mencapai tahapan commited buyer tanpa melewati empat tingkatan-tingkatan sebelumnya.

Beberapa pertanyaan besar yang harus kita jawab saat ini adalah, seberapa akurat metoda riset untuk pemilihan metoda riset tersebut? Benarkah Garuda Indonesia, Citibank, Kompas, Kartini, Electrolux, Coca Cola, Philips dan Hawlet Packard, benar-benar memiliki nilai kepantasan hakiki sebagai merek terbaik? Jika tidak, lalu tahukah dan sadarkan anda siapa dan apa merek terbaik dunia sesungguhnya sepanjang masa?

*MEREK TERBAIK DUNIA SEPANJANG MASA*

Jika kita menyadari sepenuhnya tentang hakikat sebuah merek, maka tidak perlu membuat research design untuk menentukan sebuah merek terbaik, karena cukup menggunakan hati nurani dan ketajaman berfikir. Metoda yang digunakan adalah keikhlasan, kerendah hatian, kesyukuran dan kecerdasan intelektual sebagai manusia.
Merek tersebut dibuat atas kesadaran, kesepakatan dan kecintaan yang begitu tinggi. Setiap proses produksi belum tentu menghasilkan output seketika. Butuh kesabaran yang begitu tinggi, karena ’berhasil atau tidaknya’ produk sangat bergantung pada ’kekuatan lain’ dan takdir. Perangkat produksi pun di desain dengan sedemikian unik dan sempurna, dan menjamin setiap output yang dihasilkan pada proses produksi itu pun adalah unik dan memiliki differensiasi, bahkan terdifferensiasi seketika. Ketika ‘kekuatan’ lain menghendaki jadi, maka jadilah! Produk tersebut.

Proses pembentukkan hingga menjadi bentuk produk yang defenitif memakan waktu berbulan-bulan lamanya dan selama proses itu berlangsung dan proses produksi menggunakan materi-materi terbaik dan melibatkan quality control yang ‘maha ahli’ di bidangnya, sehingga kualitasnya tak dapat diragukan sedikitpun.

Proses produksi akan terus berlangsung Seiring dengan berjalannya waktu dan musim yang berganti. Berbulan-bulan lamanya selama masa proses berlangsung, produk tersebut mendapat tambahan materi yang sangat tinggi kualitasnya dari produsen. Tidak hanya itu, selama proses produksi berlangsung begitu banyak hal yang terjadi, dilakukan dan dikorbankan, sebagai komitmen atas kualitas produk dan ekuitas merek. Dan semua itu dilakukan dengan segala keikhlasan dan kebanggaan sebagai produsen sejati.

Harapan sebagai manufacturer tidaklah banyak, kelak ketika produk tersebut siap di lounching, maka produk tersebut benar-benar memiliki kesempurnaan, tanpa cacat produksi sedikitpun, dan kalaupun ada diusahakan seminimal mungkin. Kalaupun itu terjadi, produk itu tidak dapat dikatakan sebagai ’produk gagal’ karena begitu banyak ’kebesaran’ lain dan ’keunggulan’ lain pada produk tersebut.

Tidak ada satupun produk di dunia ini dibuat dengan segala keihlasan dan tanggung jawab yang tinggi. Bahkan ekuitas atas merek tidak dapat dinilai dengan metoda riset dan statistik secanggih apapun karena ke-takternilaiaan-nya. Hal ini menjadi salah satu alasan kenapa produsen tidak pernah berpikir menjual produk tersebut, bahkan jangankan berpikir, terlintas pun tidak!. Jauh sebelum di luncurkan, produk ini telah memiliki portfolio yang sangat detail dan jelas, bahkan masa depannya sudah direncanakan dengan sedemikian baiknya.

Ekuitas atas merek bahkan melewati empat tahapan sekaligus dan langsung mencapai tingkatan ekuitas tertinggi, yaitu Brand Loyalty!. Brand awarness dibangun dengan memberikan nama yang baik dan dalam nama itu terkandung makna dan nilai yang begitu tinggi, dimana awareness atas merek dibangun dengan sedemikian baiknya secara terus menerus sepanjang daur hidup produk itu berlangsung. Brand perceived quality dan brand association pun ditanamkan saat itu juga, dengan komitmen yang teguh dan tekad untuk menjadikan merek tersebut menjadi brand yang memiliki masa depan, bahkan benar-benar di assosiasikan sebagai ’brand dari masa depan’ tanpa ada hal-hal yang meragukan sedikit pun.

Demikian halnya dengan ekuitas atas merek (brand equity), loyalitas atas merek (brand loyalty) atas produk tersebut langsung menempati tingkatan tertinggi, yaitu like the brand dan commited buyer. Produsen benar-benar bangga terharap produk tersebut, menjadikannya sahabat dan merekomendasikan produk tersebut ke setiap market sebagai merek terbaik dengan berbagai nilai tambah sebagai differensiasi. Tidak ada satupun merek yang diproduksi di dunia ini, yang seketika diluncurkan (lounching) langsung menjadi produk dengan ekuitas merek tertinggi dan loyalitas terbaik, kecuali produk tersebut. Differensiasi atas produk tersebut hampir tidak dapat diukur karena begitu uniknya dan memiliki karakteristik yang begitu tinggi.

Anehnya, walaupun memiliki brand value dan loyalty yang sangat baik, produsen tidak pernah berniat menjualnya, bahkan produsen terus menerus melakukan apa saja tanpa mengenal batas ruang dan waktu untuk meningkatkan brand value index, yang sebetulnya sudah sangat baik dan tak mampu diukur oleh semua sumber daya teknologi, secanggih apapun.

*TAHUKAH ANDA BRAND TERBAIK DUNIA ITU?*

Cobalah renungkan sejenak, sadari dengan segala keikhlasan yang ada dan Demi ALLAH! Merek terbaik dunia sepanjang masa itu tidak lain adalah nama saya, nama anda dan nama-nama mereka, Aris Ahmad Jaya,Teguh, Deka, Refrinal, Poppy Irawan, Afrinaldi Gazly, Zean Zoeldy, Indra Utama, Mainofri Rustam, Ibnu Mas’ud, Martha Gunawan, Doni Oskaria, Nurhayati Subakat, K. Suheimi, Evalinds, Sukardi Naim, Basril Jabar, Musfi Yendra, Khaidir Arief, Iman, Indra Warman, Rusnaldi, Primenix, Alreza dan 200 member WAG ini, 240 juta nama-nama di republik ini, dan 5 milyar nama-nama lainnya diseluruh belahan dunia tanpa kecuali adalah merek terbaik terbaik sepanjang masa, tidak hanya di dunia, juga akhirat. Dan kedua orang tua kita, terutama Ibu-Ibu kita adalah produsen terbaik dunia, yang telah mengandung, melahirkan, membesarkan dan mendoakan kita, tanpa ada sedikitpun pamrih.

Bayangkanlah sejenak dan pikirkanlah, apakah ada produk yang diberi merek nama-nama kita, dikelola sedemikian baiknya nyaris tanpa pamrih? Mungkin sepanjang kita hidup, sejak terjadi fertilisasi (pembuahan) hingga saat ini, sebetulnya kita telah ’membebani’ hidupnya. Ketika fertilisasi terjadi ’kita’ telah membuat ibu-ibu kita merasakan mual yang teramat sangat dan muntah-muntah yang menyiksa, namun ’siksaan’ itu diterima dengan segala kegembiraan dan kesyukuran. Kemudian selama lebih dari sembilan bulan lamanya, kita ’kembali membebaninya’ diangkut kemana-mana sepanjang siang dan malam, dijaga sedemikian rupa penuh kehati-hatian, dan makanan yang diberikan pada kita selama dalam kandungan berasal dari kualitas terbaik dari darahnya, bahkan ketika beliau dalam keadaan sakit dan laparpun, kita tetap memperoleh suplai makanan dari darah terbaik yang sebetulnya merupakan cadangan energi baginya.

Sembilan bulan itu adalah masa yang begitu panjang, dan bahkan tidak ada ’kuli’ yang bersedia dibayar untuk memanggul beban selama itu. Ibu-Ibu kita mempertaruhkan hidupnya ketika melahirkan, berjuang antara hidup dan mati, menahan rasa sakit yang tiada tara dan banyaknya pembuluh darah pecah dan sel-sel yang rusak ketika proses melahirkan itu berlangsung. Butuh waktu paling sedikit 40 hari untuk mengembalikan kondisi tubuh beliau ke kondisi semula, namun belum tentu seperti sedia kala. Setelah lahir, kita disusui selama berbulan-bulan lamanya, dan susu itu terbuat dari darah dari kualitas terbaik, yang sebetulnya lebih dibutuhkan untuk kelangsungan hidupnya. Siang dan malam kita dijaga dengan hatinya, memandikan kita dengan penuh cinta, membersihkan kotoran kita dengan tangan kanannya, dan dalam setiap helaan nafasnya, sepanjang siang dan malam terpanjat doa dan harap semoga kita cepat besar dan kelak menjadi manusia yang berguna.

Dengan penuh kesabaran beliau ajarkan kita merangkak, berjalan dan mengenal semua yang ada di dunia untuk pertama kalinya. Beliau adalah insan mulia yang pertama kali mengajarkan kita mengenal ALLAH, menuntun tangan kita menulis dan mengajarkan kita membaca, dengan harapan kelak kita bisa membaca keadaan dan belajar tentang hidup di jalan yang lurus. Beliau bangun ketika kita masih terlelap pulas dalam buaian mimpi, ruku dan sujud, serta menegadahkan wajah dan tangan ke langit, memohon tanpa henti pada Sang Khaliq untuk kebahagiaan seorang anak, yang bahkan belum tentu berguna baginya. Pun demikian, beliau tidur ketika kita telah pulas tertidur, dan sebelum tidur beliau sempatkan memandangi wajah kita dengan segala kecintaan, membelai dan mencium kening kita, sebelum beliau tidur. Ibu-Ibu kita menjalankan fungsi sebagai ’customer service’ terbaik di dunia ini, dan tak ada ilmu manajemen, pemasaran dan strategy manapun yang mengajarkan ini.

Masih segar dalam ingatan saya, bagaimana sibuknya Ibu ketika saya akan berangkat sekolah beliau menyiapkan makanan dan menyuapkan nasi dengan sabar sesuap demi sesuap ke mulut ini sembari menunggu bis ditepi jalan. Dikemudian hari, dimasa ini barulah saya sadar, betapa suap demi suap nasi itu ternyata dikonversi sebagai sumber energi bagi otak, untuk belajar, untuk berfikir dan menjadikan saya manusia seperti sekarang ini. Perempuan inspirasi hidup itu dengan sabar menunggu setiap hari di depan pintu rumah hingga anak-anaknya pulang sekolah, dan menanyakan pelajaran hari itu. Ketika telah dewasa seperti sekarang ini pun beliau masih tetap setia menunggu saya pulang di depan pintu rumah, masih seperti dulu dan tak ada yang berubah.

Setiap kepahitan hidup dilalui dengan senyum ikhlas, tak ada kebahagiaan baginya kecuali melihat kami bahagia. Semua kesedihan hidup mampu beliau simpan dengan sempurna, tak terlihat dan seakan-akan tidak ada apa-apa. Ibu selalu meyakinkan kami untuk terus belajar dan melanjutkan sekolah, apapun yang terjadi.

Diantara semua anak-anak mungkin saya paling dekat dengan Ibu, beliau tidak hanya sebagai ibu, melainkan juga sahabat dan tempat untuk mencurahkan cinta dan pengabdian seorang anak. Saya sangat mencintainya sepanjang hayat, tak ada yang lebih membahagiakan saya kecuali membahagiakannya, tak ada yang lebih berharga bagi saya, kecuali memiliki kecintaan yang sedemikian besar pada perempuan itu. Sepenuhnya saya sadar, apapun yang saya lakukan tak akan mampu membayar apa yang telah beliau lakukan selama ini.

Tak ada satupun ilmu akutansi manajerial yang mampu menghitung dan mengkonversi segala pengorbanan, pengabdian dan keikhlasan beliau dalam bentuk indeks, uang dan angka. Ibu-ibu kita adalah pribadi yang unik, bahkan mereka tidak pernah menghitung apapun yang mereka lakukan, karena semuanya dilandasi cinta tanpa batas dan keihlasan tanpa pamrih sedikitpun. Membalas jasanya saja sudah tidak mungkin, lalu apakah pada tempatnya jika setelah apa yang beliau lakukan, kita melawan, mendurhakai, bahkan memperlakukan Ibu-Ibu kita tidak pada tempatnya. ALLAH mengajarkan, janganlah sekali-kali mengatakan ’ah’ pada ibu kita, bahkan makna yang lebih dalam, jangankan berkata ’ah’ dimulut, jika mungkin di hati pun jangan!

*HARI INI YANG TERBAIK, TIDAK ADA ALASAN UNTUK GAGAL*

Jadi, apakah ada merek yang lebih baik di dunia ini selain nama-nama kita? Adakah produk yang dikelola sebaik dan sesempurna itu? Bahkan sejak proses produksi, selama proses produksi dan pasca produksi? Ibu kita sesungguhnya adalah produsen terbaik dunia bahkan akhirat yang memproduksi tanpa mengharapkan sama sekali return of equity (ROE) bahkan return of investment (ROI) padahal begitu banyak harta baik yang berwujud ataupun tidak yang telah dikorbankan untuk membangun ekuitas nama kita, sebagai merek dari masa depan. Kita adalah inspirasi hidup Ibu kita, dan sudah selayaknya kita jadikan Ibu kita inspirasi hidup pula.

Sebagai merek terbaik dunia, maka banyak alasan untuk berhasil, namun tak satupun alasan untuk gagal. Jadikan setiap hari merupakan hari yang terbaik, rubahlah apa yang perlu dirubah dan belajarlah dari kehidupan yang kita jalani. Harus kita akui bahwa kita tak bisa mengubah masa lalu, namun perlu diingat, kita bisa melukis masa depan. Tak ada yang lebih berharga bagi seorang manusia, kecuali memiliki ilmu yang berguna dan ilmu itu bermanfaat bagi orang lain.

Dari sini kita bisa belajar, bahwa ALLAH memberikan kita kemuliaan sebagai manusia, dan dianugerahkan kemuliaan seorang Ibu. Selayaknya kita menghasilkan merek-merek yang lebih baik lagi, dengan melakukan benchmarking terhadap apa yang telah dilakukan oleh Ibu-Ibu kita. Apa yang tertulis adalah sebagian kecil dari sebagian kecil cerita tentang Ibu yang terungkap, begitu banyak bahkan tidak bisa kita ceritakan, karena begitu banyaknya, baik yang terlihat ataupun tidak terlihat.

Namun hampir tidak seorangpun bisa membantah, bahwa hampir semua orang menjadikan Ibu sebagai insiprasi hidup!! Setelah ini, pulanglah ke rumah, temui Ibumu yang selalu menunggumu pulang dan selalu mencintaimu, walaupun kamu selalu melawannya, berkata dengan suara lebih nyaring dan lebih tinggi darinya, bahkan hampir setiap nasehatnya kamu abaikan, padahal itu adalah wujud cinta kasih, pengabdian dan pemenuhan janjinya kepada Sang Khaliq.

Pulanglah, dan mintalah maaf dan restu pada insan yang selalu memuliakanmu, dengan tak memperdulikan apapun yang kamu lakukan atasnya. Lihatlah matanya yang mulai redup, kulitnya yang mulai kusam dihiasi keriput, pertanda betapa banyak penderitaan tak terungkap dan cukup ALLAH yang tahu tentang hal itu. Namun semua penderitaan itu adalah kebahagiaan untuknya. Mulai hari ini upayakanlah mata itu terus berbinar dan ciumlah pipi dan keningnya setiap hari, seperti yang telah dia lakukan padamu selama ini, dan menjadikanmu seperti sekarang ini.

Pulanglah, temui Ibumu. Karena tak ada lagi waktu, bahkan tak akan pernah bisa kamu menggantikan semua usaha yang telah dia lakukan untukmu, karena tak terhitung dengan uang bahkan apapun yang kini kamu miliki. Temuilah dia dan katakan bahwa betapa kamu mencintainya, dengan segenap hati, jiwa dan raga. Pulanglah, temui Ibumu. Karena waktu tak lagi banyak, buatlah hari yang tersisa ini sebagai hari-hari yang penuh kenangan. Kenangan yang akan selalu ada dan hidup bersamamu, pun ketika beliau pergi ke pelukan ALLAH.

Pulanglah, temui Ibumu. Berbaktilah dan berdoalah untuknya sepanjang kamu hidup! Dan untuk menjadi pemasar terbaik maka tidak hanya pengetahuan dan pembelajaran tentang hakikat dunia yang harus kamu kuasai, melainkan ada sesuatu yang mutlak harus kamu lakukan dan tak ada tawar menawar untuk itu, jika memang kamu memiliki komitmen sebagai seorang pemasar yang baik, yaitu doa dan restu Ibumu, karena dia adalah manufacturer terbaik di dunia ini, yang telah bersusah payah menjadikanmu seperti sekarang ini, *BRAND TERBAIK DUNIA SEPANJANG MASA!*

Thursday, 17 November 2016

Walikota Padang akan Diundang Jadi Imam Masjidil Haram

Karena keindahan akhlak dan tilawahnya, Walikota Padang Mahyeldi Ansharullah akan mendapatkan undangan menjadi imam Masjidil Haram. Demikian disampaikan Syaikh Khalid Al Hamudi, seorang ulama asal Arab Saudi yang datang ke Padang baru-baru ini dalam rangka melihat kesiapan Kota Padang sebagai salah satu daerah kontestan tuan rumah pertemuan dai dan ulama internasional pada 2017 nanti.

“Walikota Padang telah menggabungkan keindahan akhlak dan suara. Saya akan mengambil beliau dari Padang untuk jadi imam shalat di Masjidil Haram,” kata Syaikh Khalid di depan jamaah Subuh Nurul Ikhlas di Jl Ikhlas V, Andalas, Padang Timur, Selasa (2/8/2016) lalu.

Saat itu, Mahyeldi bertindak sebagai imam Shalat Subuh sedangkan Syaikh Khalid menjadi salah seorang makmumnya. Syaikh Khalid terkesan dengan keindahan suara Mahyeldi dalam membaca Al Quran setelah terkesan juga dengan akhlak Walikota Padang itu.

Usai shalat Subuh, Syaikh Khalid yang mendapat kesempatan untuk memberikan tausiyah kepada jamaah memuji Mahyeldi dan menyampaikan maksud tersebut.

Mendengar pujian dan permintaan tersebut, Mahyeldi hanya tersenyum.

Sejak muda, Mahyeldi aktif mendalami Islam sejak duduk di bangku sekolah. Ketika menjadi mahasiswa, ia aktif menjadi aktifis dakwah dan mubaligh. Ia juga pernah menjadi Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Padang.

Mahyeldi dikenal sebagai sosok pemimpin yang sederhana, santun, dan rendah hati. Ketika menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Sumatera Barat pada 2004, ia menolak menggunakan mobil dinas mewah sebagai pimpinan DPRD. Berdasarkan hasil audit Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menjelang pemilihan Wali Kota Padang pada 8 Oktober 2013, KPU Padang merilis laporan harta kekayaannya senilai 281,509 juta.

Setelah menjadi Wali Kota Padang sejak 13 Mei 2014, banyak prestasi yang telah dipersembahkan oleh Mahyeldi. Beberapa bulan setelah ia menjabat Walikota, Padang memulai penyelenggaraan pendidikan gratis 12 tahun yang menjangkau seluruh siswa SD, SLTP, dan SLTA negeri. Padang juga meningkatkan alokasi dana bantuan siswa kurang mampu.

Di bawah kepemimpinan Mahyeldi, program mendekatkan siswa dengan Al Quran semakin ditingkatkan. Siswa yang memiliki hafalan Quran tertentu boleh memilih bebas sekolah yang mereka inginkan sesuai jenjang kelanjutannya; satu juz bagi siswa SD, dan tiga juz bagi siswa SMP. Untuk siswa SMA yang hafal lima juz dapat memilih kesempatan masuk ke Universitas Andalas atau Universitas Negeri Padang.

(Ayo Sebarkan kelebihan Pemimpin Muslim)

☝🏽 Banyak Pemimpin Muslim di Indonesia yg berpresasi. Mulai dari Wali Kota/Bupati hingga Gubernur. Tetapi media di Indonesia tidak memihak mereka.